Rabu, 03 Desember 2014

Toga Si Anak Negeri



TOGA SI ANAK NEGERI
Perjalanan mengitari sudut dunia terus berlanjut hingga sekarang. Lelaki tua dengan jubah hitam yang menyelimuti tubuhnya yang tegap berjalan menyusuri pelosok kota. Dia seperti mencari sesuatu dengan toga yang ia pegang di tangan kanannya. Sesekali ia mengamati anak kecil yang sedang menghitung kerikil. Lalu berjalan lagi mengikuti arus jalanan panjang kehidupan dunia. Di ransel yang ia pangku di punggungnya, ia simpan sebuah buku kosong dan sebuah pena tinta warna hitam. Sesekali ia buka dan ia tuliskan sesuatu di kertas buku tersebut. Entah narasi apa yang sedang ia isi. Tinta-tinta berbaris rapi di tiap garis-garis lembaran bukunya. Sambil menghatur langkah tegap menuju ke sebuah arah tak berkompas.
“Ah... masih sedikit!”, keluhnya sambil menuliskan sesuatu di dalam buku kosong tersebut.
Ia teruskan langkah dan terhenti di sebuah terminal. Kelihatannya ia ingin meninggalkan kampung halamannya. Namun hanya berbekalkan satu tas ransel yang terisi penuh ia sudah tampak cukup yakin untuk menjajal dunia. Entah apa isi tas itu. Entah hanya lembaran-lembaran pakaian yang mungkin akan ia gunakan dalam perjalanan nanti atau mungkin harta karun yang isinya emas berlian untuk ia bawa sebagai bekal tujuh turunan. Entahlah, yang pasti buku kosong dan pena itu pasti ada di dalamnya. Apa yang sebenarnya ia cari, si musafir tak berkompas. Terus ia berjalan dan terhenti di sebuah rumah.
“Aku ingin pergi sejenak. Ada hal yang harus aku kerjakan.”, kata si musafir tersebut.
“Ayah, tetaplah di sini. Tubuhmu sudah tidak kuat lagi untuk memikul langkah kakimu yang tak henti mengikuti ilusi.”, lelaki paruh baya itu menahannya.
“Ini masih sedikit. Aku masih harus menyelesaikannya sebelum usiaku usai.”, dia tetap pada pendiriannya.
“Baiklah. Tapi cukuplah ini yang terakhir. Selesaikan lalu kembalilah!”
Si musafir tua kemudian meneruskan langkah kakinya, menaiki sebuah bus arah Jakarta. Duduk diam, lalu membuka buku dan penanya. Kembali ia menuliskan sesuatu yang tidak ada satu orangpun pernah membacanya. Ia layaknya seorang seniman yang melukiskan kata dengan tinta, namun lukisannya tersembunyi di balik sampul buku. Sesekali ia menyulut rokok yang sedari tadi mengapit di jari telunjuk dan jari tengahnya. Hisapan yang nikmat, menghembuskan asap kehidupan yang tenteram, jauh dari masalah duniawi. Ia tampak sangat menikmati hisap hembus pembakaran tembakau. Dan asapnya mengepul seiring dengan keluarnya kata-kata di ujung pena. Kepulan itu seperti kumpulan huruf yang kemudian ia rangkai di baris tulisan di bukunya.
Aroma kota mulai tercium, pertanda Jakarta sudah mulai dimasuki. Semua irama tanpa warna bercampur baur di jalanan kota. Gedung menggunung berjejer di sekitaran kota, sedang di pinggirnya beralaskan kardus membentuk kota kotak. Semua tampak sedemikian rupa bertumburan warna, memecahkan menjadi beberapa bagian yang membentuk suatu ekosistem yang diagonal. Pemandangan ini sangat menarik perhatian lelaki tua tersebut. Sambil tersenyum, ia tarikan jemari berdansa bersama pena. Pikirannya berasoasi membentuk sebuah mimpi. Matanya menjalar mengitari seputaran kota. Gerak-gerik yang mencurigakan bagi orang baru yang belum diucapkan selamat datang.
Bus berhenti, kaki berdiri melangkah kembali. Ia bawa diri menuju sebuah perumahan kecil di pinggir kota. Ia tetapkan rumah itu sebagai tempat pemberhentiannya selama di tempat ini. Ia keluarkan semua isi tasnya, sebuah jubah hitam dengan toga memenuhi isi tas yang hanya ada beberapa kemeja dan celana. Membersihkan diri, lalu mengambil perlengkapan perang. Kini ia siap untuk bertempur melangkah menuju satu tujuan. Ia mengitari seluruh jagad seperti ada yang ingin dicari. Setiap berhenti, siap senjata mengukir cerita di buku yang selalu dibawanya. Semua kertas kosong di bukunya itu kini mulai ia serakkan dengan kata-kata. Entah bagaimana akhir dari cerita si musafir kata-kata.
Tiap melangkah, seribu kata tercurah mencerahkan hatinya. Menapaki jalanan kota, tampak ramai tak berpenghuni. Semua sibuk sendiri, berpacu dengan dentang-denting jarum jam. Irama itu membangkitkan jalar cacing yang bertapa di kepalanya. Geli menggelitik jemarinya untuk menuliskan sesuatu. Lalu ia melangkah lagi hingga sampai di fatamorgana kota. Semilir air coklat menghiasi pinggiran kota dengan berbagai macam pernak-perniknya yang mengkilap saling berpantulan dengan matahari. Rasa cengang menggeluti lelaki tua itu. Terduduk lalu kemudian ia buka kembali lembaran-lembaran kosong di bukunya. Berkhayallah dia dengan menyenderkan tubuh ke sebuah pohon besar di tepi sungai. Dalam diam, nalarnya menari. Berimajinasi seiring terik matahari menukik di permukaan tanah.
Sluuut.... Sebuah benda bundar membawanya kembali ke dunia nyata. Ia tersadar bahwa sedari tadi ia telah duduk sendiri. Menyatu dengan dunia ilusi sehingga tak sadarkan diri bahwa sejak tadi sudah berdiri anak-anak yang tengah bermain bola kaki.
“Kembalikan bolanya!”, ucap seorang bocah salah satu dari mereka.
Ia langsung berdiri membawa bola tersebut dan merebut satu gol di gawang yang tengah menganga menunggu mangsa. Kemudian permainan dimulai. Pemain baru memasuki lapangan permainan. Bermain dengan asyik melupakan segala hal yang mengusik pikiran.
Senja telah berada di perbatasan hari. Keceriaan masih terpancar di tiap gulingan bola. Satu permainan yang mendekap rasa. Hilang semua gundah gulana yang menghampiri dunia setiap harinya. Kelihatannya permainan melupakan segalanya. Ia baru ingat senjata perangnya tergeletak sendiri di bawah pohon. Tak mungkin rasanya untuk melupakan dua benda itu.
“Kek, besok kita main lagi ya!”, ujar salah satu bocah.
Dia hanya tersenyum, mangambil alat perangnya dan menghilang bersama pergantian malam. Langkah itu terlihat semakin meyakinkan. Kembali ia torehkan tinta di buku yang hampir terisi penuh dengan coretan. Senyumnya mengumbar ide.
“Tinggal beberapa halaman lagi.” ujarnya
Pagi mengubah diri. Permainan kemarin kini menjadi pertemuan yang berkelanjutan. Dengan baju kumal dan tanpa mengenakan sandal, mereka berlari menuju bantalan sungai. Di sana telah menunggu si jubah hitam dengan buku dan penanya. Permainan waktu mengubah hal baru. Satu perkumpulan yang haus pengetahuan. Mereka mengangguk, mengacungkan tangan, lalu berbicara. Si kakek tua hanya tersenyum, bercerita, lalu menuliskan sesuatu. Kegiatan yang silih berganti, menjadi kreasi bagi si musafir tanpa kompas. Kini hidupnya disiasati oleh mimpi yang telah pasti. Kardus dibangun menjadi kotak otak. Kreasi silih berganti menyulap kardus menjadi robot tak bernyawa. Kotak dibawa bersama langkah kaki hingga mengganti baju kumal mereka menjadi bersih dan mengkilap. Senyuman mereka semakin terpancar mengalahkan sinar mentari pagi. Kini ada arti dari masa depan anak negeri.
“Ayah. Ternyata ayah masih hidup?”
Pertanyaan itu mengejutkan semuanya.
“Ayah, kau hilang di kota kami. Kau hidup di luar sini. Kenapa kau lebih memilih di sini?”
“Aku hidup untuk ini. Aku mati di kampung halamanku dan bergentayangan di setiap pelosok negeri.” Gumam lelaki tua sambil menyulam senyum.
“Ayah, kembalilah. Kampungmu juga membutuhkanmu.”
Apa hidup memang sebuah pilihan. Jika iya, mati adalah pilihan terbaik. Lelaki tua hanya bisa terdiam. Menatap satu persatu tulisan yang telah ia tuliskan di sepanjang jalan dalam tiap langkah kakinya. Memang mengelilingi jagad raya adalah pilihanku, tapi tujuan akhirnya adalah kampungku. Aku hidup di negeri orang, aku mati di negeriku. Kemana toga yang selama ini kujaga untuk kuhadiahkan pada mereka. Tulisan ini harus berakhir sampai di sini. Si musafir tak berkompas kini menghentikan langkah kakinya yang lelah. Ia akhirnya pulang.
“Toga ini kuserahkan padamu si anak negeri.” Seraya menyerahkan kepada anak-anak yang akan ditinggalkannya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar