Selasa, 24 Juni 2014

Patung Bergerak Seorang Wanita di Sudut Rumah Makan




Patung Bergerak Seorang Wanita di Sudut Rumah Makan


Seorang wanita duduk di sudut jendela rumah makan. Matanya terpaku pada sudut fokus penglihatan. Badannya lemas seperti kelaparan, namun makanan yang ada di hadapannyapun enggan di makan. Hanya dimain-mainkan dengan sendok dan garpu yang ia pegang pada kanan dan kiri tangannya. Mukanya pucat pasi. Pikirannya tampak melayang berada pada suatu tempat yang nyata.
Di depan meja makannya, duduklah seorang wanita tengah baya dengan bocah yang berpakaian putih merah. Sesekali mereka bercanda, lalu tertawa. Si bocah bercerita-cerita tentang apa yang ia alami di sekolah. Sesekali wanita tengah baya tersebut mencubit gemas pipi bocah kecil itu. Sambil melihat daftar menu wanita tengah baya terus menyimak ocehan bocah kecil itu. Tersenyum dan menanggapi ocehan si bocah kecil.
Selang beberapa menit, seorang pelayan perempuan menghampiri dua orang tamu tersebut. Dengan senyum ramah, ia menyapa para tamu lalu menyodorkan segelas air putih. Selanjutnya ia membuka secarik kertas kecil dan mencatat pesanan para tamu. Dengan sabar dan tanpa membuang senyum di wajahnya, ia menyimak dan mencatat setiap pesanan para tamunya. Dengan detail dicatat semua permintaan tamu. Tanpa ini, tanpa itu atau tambah ini, tambah itu. Semua dicatat dengan penuh amanat dan tanpa rasa kesal. “Baik. Pesanan Ibuk nanti akan kami antar. Mohon tunggu sebentar.” Membalikkan badan dan pergi ke dapur makanan.
***
Hg, 24 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar