Kamis, 18 Desember 2014

SEGELINTIR CAHAYA DI DALAM DOA



SEGELINTIR CAHAYA DI DALAM DOA
HG
 
Setelah lama menanti sesuatu yang tak pasti. Kini cahaya itu mulai tampak, setelah menapak di seribuan kilo jalan yang penuh lika-liku. Ku temukan hidayah yang telah lama kucari dalam sekelompok kecil kafilah. Saat ku berpacu pada pilihan hingga ku tentukan pilihan untuk mengikuti jalan ini. Dan ternyata pilihan ini tepat. Telah layak ku bersyukur sebagai wujud sujud atas rahmat-Nya.
Saat pertamaku membuka mata di studi pengetahuan, aku melihat aneh fashion modis para ukhti ilahi. Hatiku membisikkan “Apa ini, teroriskah? Atau fashiontoris?”. Ku selimuti pertanyaanku dengan mengikuti jejak ditapakan suci ahli syurgawi. Akantetapi, desas-desis angin mengibas pikiranku. Kata manis, ajakan sadis sempat menggoyahkan langkah kakiku. Namun perlahan tapi pasti kuhentakkan kaki membalik diri kembali berkecimpung dalam wadah sajadah.
Aku semakin merasa seperti diselimuti dengan kesejukkan saat sang ukhti membalutkan dengan kata lembutnya. Sungguh bulu romaku menggelincirkan sedikit demi sedikit perbuatan nista yang hina. Saat pertama ku ditatah, ia katakan padaku “Kebaikan itu bukan untuk ditunggu tapi untuk dicari”. Kusematkan syairnya di hatiku, walau setengah hatiku masih memelas lemas. Syair kedua pun berkumandang “Yang menghancurkan agamamu adalah kaummu sendiri”. Syair kedua kubuktikan dengan mendengar desas-desus nyata para manusia. Pro kontra membuatnya pecah, saling menghujam panah nanah. Namun aku masih berada di tengah anak panah. Aku masih mencari kebaikan itu, dengan cara dan pikiranku sendiri.
Suatu malam ku dapatkan masalah yang memapah jenazahku dalam ruang kegalauan. Ku tanya dua kaum yang masih menyisih selisih. Kubandingkan jawaban atas satu pertanyaanku. Jawaban itu membuatku atur langkah dalam gundah. Susah memang saat harus mengatur langkah, sementara kaki masih memapah. Jawaban dari satu kaum membuatku tergugah “Yakinkan hati, serahkan diri, arah baik akan ditentukan oleh-Nya”. Sejak malam itu, kuputuskan untuk kembali mengukir jejak bersama orang-orang hebat yang mampu memupuk semangatku semakin menggelora.
Pagi buta ku membuka mata, walau susah tapi perkataanya membuat tiga ikatanku lepas hingga ku dapat bersimpuh di hadapan-Nya. Mengadu suka duka yang ingin dan hendakku lakukan. Terus beraktivitas dan tidak menyisakan ruang vakum yang mampu sang api isi. Lalu kembali menemuinya, sang pujangga suci pengingat hati.
Dalam studiku, dia ajarkan aku kehidupan dunia dan akhirat yang akan ku jalani. Kata-kata yang terus Ia ucapkan kadang membuatku jenuh, namun kata-kata itu selalu kurindukan. Entah untaian katanya yang indah atau selerai makna yang membuatku berkaca. “Tuhan,,inikah jalanku?” sembari menghitung tasbih di ujung jemariku. Ini mungkin belum pilihan, namun ini adalah pencarian.
Keesokan harinya kutemukan lagi masalah yang tak bisa menahanku untuk mengadu kepada si lembut hati si manis kata. Ia dengan sabarnya membelai kisahku dengan kata indahnya. Katanya “Saudaraku, masalah adalah ujian. Seperti halnya dalam ujian dalam belajar dan pembelajaran, hasil dari ujian tersebut adalah gambaran oleh apa yang kita usahakan selama ini yaitu kesabaran dalam menjalani menjawab soal-soal yang Dia berikan.”
Hari demi hari kujalani bersama kafilah kalifah bumi. Ia selalu sabar mendengar keluh kesahku. Ia tak segan  mengulurkan tangannya saatku terjatuh dan jenuh. Ini kurasakan beda dengan satu sisi kaum satunya lagi. Ia ramah tapi angkuh, peduli tapi sombong, semua yang dilakukannya hanya untuk eksistensi dunia yang mengatas namakan akhirat. Aku bagaikan orang munafik yang menebar senyum di dua kaum yang berbeda tapi sama. Apakah ini dosa atau bermakna, belum mampu kujawab dengan akal dangkalku. Kulakukan apa yang terbesit di sanubari, mengikuti langkah kaki. Ini tidak semudah yang ku bayangkan. Semua terasa sulit dan serba salah. Segalanya menjadi terjerat dalam kegalauan dan kegundah gulanaan. Ku mulai berpikir keras tentang suatu pilihan karena hidup adalah pilihan. Pilihan adalah keputusan dan keputusan adalah perjalanan.
Hari selanjutnya aku semakin haus dengan kata-katanya. Kucari dia dan kusalurkan keluh kesahku. Pesannya masih ku simpan “Hidup itu seperti gambar. Kalau tidak kita yang mewarnai, maka kita yang akan diwarnai”, katanya dalam tilawahnya. Aku telah diwarnai oleh kaumnya. Aku gagal mempertahankan warnaku. Aku tidak menyesal atas itu karena aku telah diwarnai dengan warna pelangi yang indah. Ini tidak seperti yang ku pikirkan, aku telah dipengaruhi oleh pikiran para kalifah-kalifah kafilah. Aku semakin dalam mengikuti jalannya.
Ini bukanlah akhir. Ini awal untukku berjalan memacu langkah. Katanya menjadi sandaranku saat ku terjatuh. Dan pasrahku atas keputusannya yang terbaik untukku. Itu menjadi peta dalam atlas hidupku. Saat aku membagi kesenangan dan kesedihan ku tuju kafilahku. Kutuangkan tangisku dan dan kulimpahkan tawaku di wadah kalifah.
Kini ku telah tentukan jalanku untuk menapaki jalan itu. Aku telah menjadi bagian dari barisan kafilah itu. Ku ikuti jalanku, namun aku belum memilih. Hanya berusaha mengejar kebaikan yang tak ingin ku tunggu. Pilihanku masih di ujung rel kereta.
28 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar