SEGELINTIR CAHAYA DI DALAM DOA
HG
Setelah lama menanti sesuatu yang tak pasti.
Kini cahaya itu mulai tampak, setelah menapak di seribuan kilo jalan yang penuh
lika-liku. Ku temukan hidayah yang telah lama kucari dalam sekelompok kecil
kafilah. Saat ku berpacu pada pilihan hingga ku tentukan pilihan untuk
mengikuti jalan ini. Dan ternyata pilihan ini tepat. Telah layak ku bersyukur
sebagai wujud sujud atas rahmat-Nya.
Saat pertamaku membuka mata di studi
pengetahuan, aku melihat aneh fashion modis para ukhti ilahi. Hatiku
membisikkan “Apa ini, teroriskah? Atau fashiontoris?”. Ku selimuti pertanyaanku
dengan mengikuti jejak ditapakan suci ahli syurgawi. Akantetapi, desas-desis angin
mengibas pikiranku. Kata manis, ajakan sadis sempat menggoyahkan langkah
kakiku. Namun perlahan tapi pasti kuhentakkan kaki membalik diri kembali
berkecimpung dalam wadah sajadah.
Aku semakin merasa seperti diselimuti dengan
kesejukkan saat sang ukhti membalutkan dengan kata lembutnya. Sungguh bulu
romaku menggelincirkan sedikit demi sedikit perbuatan nista yang hina. Saat
pertama ku ditatah, ia katakan padaku “Kebaikan itu bukan untuk ditunggu tapi
untuk dicari”. Kusematkan syairnya di hatiku, walau setengah hatiku masih
memelas lemas. Syair kedua pun berkumandang “Yang menghancurkan agamamu adalah
kaummu sendiri”. Syair kedua kubuktikan dengan mendengar desas-desus nyata para
manusia. Pro kontra membuatnya pecah, saling menghujam panah nanah. Namun aku
masih berada di tengah anak panah. Aku masih mencari kebaikan itu, dengan cara
dan pikiranku sendiri.
Suatu malam ku dapatkan masalah yang memapah
jenazahku dalam ruang kegalauan. Ku tanya dua kaum yang masih menyisih selisih.
Kubandingkan jawaban atas satu pertanyaanku. Jawaban itu membuatku atur langkah
dalam gundah. Susah memang saat harus mengatur langkah, sementara kaki masih
memapah. Jawaban dari satu kaum membuatku tergugah “Yakinkan hati, serahkan
diri, arah baik akan ditentukan oleh-Nya”. Sejak malam itu, kuputuskan untuk
kembali mengukir jejak bersama orang-orang hebat yang mampu memupuk semangatku
semakin menggelora.
Pagi buta ku membuka mata, walau susah tapi
perkataanya membuat tiga ikatanku lepas hingga ku dapat bersimpuh di
hadapan-Nya. Mengadu suka duka yang ingin dan hendakku lakukan. Terus
beraktivitas dan tidak menyisakan ruang vakum yang mampu sang api isi. Lalu
kembali menemuinya, sang pujangga suci pengingat hati.
Dalam studiku, dia ajarkan aku kehidupan
dunia dan akhirat yang akan ku jalani. Kata-kata yang terus Ia ucapkan kadang
membuatku jenuh, namun kata-kata itu selalu kurindukan. Entah untaian katanya
yang indah atau selerai makna yang membuatku berkaca. “Tuhan,,inikah jalanku?”
sembari menghitung tasbih di ujung jemariku. Ini mungkin belum pilihan, namun
ini adalah pencarian.
Keesokan harinya kutemukan lagi masalah yang
tak bisa menahanku untuk mengadu kepada si lembut hati si manis kata. Ia dengan
sabarnya membelai kisahku dengan kata indahnya. Katanya “Saudaraku, masalah
adalah ujian. Seperti halnya dalam ujian dalam belajar dan pembelajaran, hasil
dari ujian tersebut adalah gambaran oleh apa yang kita usahakan selama ini
yaitu kesabaran dalam menjalani menjawab soal-soal yang Dia berikan.”
Hari demi hari kujalani bersama kafilah
kalifah bumi. Ia selalu sabar mendengar keluh kesahku. Ia tak segan mengulurkan tangannya saatku terjatuh dan
jenuh. Ini kurasakan beda dengan satu sisi kaum satunya lagi. Ia ramah tapi
angkuh, peduli tapi sombong, semua yang dilakukannya hanya untuk eksistensi
dunia yang mengatas namakan akhirat. Aku bagaikan orang munafik yang menebar
senyum di dua kaum yang berbeda tapi sama. Apakah ini dosa atau bermakna, belum
mampu kujawab dengan akal dangkalku. Kulakukan apa yang terbesit di sanubari,
mengikuti langkah kaki. Ini tidak semudah yang ku bayangkan. Semua terasa sulit
dan serba salah. Segalanya menjadi terjerat dalam kegalauan dan kegundah
gulanaan. Ku mulai berpikir keras tentang suatu pilihan karena hidup adalah
pilihan. Pilihan adalah keputusan dan keputusan adalah perjalanan.
Hari selanjutnya aku semakin haus dengan
kata-katanya. Kucari dia dan kusalurkan keluh kesahku. Pesannya masih ku simpan
“Hidup itu seperti gambar. Kalau tidak kita yang mewarnai, maka kita yang akan
diwarnai”, katanya dalam tilawahnya. Aku telah diwarnai oleh kaumnya. Aku gagal
mempertahankan warnaku. Aku tidak menyesal atas itu karena aku telah diwarnai
dengan warna pelangi yang indah. Ini tidak seperti yang ku pikirkan, aku telah
dipengaruhi oleh pikiran para kalifah-kalifah kafilah. Aku semakin dalam
mengikuti jalannya.
Ini bukanlah akhir. Ini awal untukku berjalan
memacu langkah. Katanya menjadi sandaranku saat ku terjatuh. Dan pasrahku atas
keputusannya yang terbaik untukku. Itu menjadi peta dalam atlas hidupku. Saat
aku membagi kesenangan dan kesedihan ku tuju kafilahku. Kutuangkan tangisku dan
dan kulimpahkan tawaku di wadah kalifah.
Kini ku telah tentukan jalanku untuk menapaki
jalan itu. Aku telah menjadi bagian dari barisan kafilah itu. Ku ikuti jalanku,
namun aku belum memilih. Hanya berusaha mengejar kebaikan yang tak ingin ku
tunggu. Pilihanku masih di ujung rel kereta.
28 Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar