Kamis, 25 Desember 2014

KENDUHI PADOI DEWI SRI



KENDUHI PADOI DEWI SRI
Herti Gustina
Sinar mentari mulai memancarkan semburat keceriaan di tengah hamparan sawah yang hijau. Tampak berseri dedaunan menyapa pagi. Tampak menyilang menyanding daun, butir-butir padi menuai merunduk di bungkuk batang. Bagai untaian zamrud di khatulistiwa tanah Indonesia. Sangat indah subur tanah melahirkan kekayaan di tengah penderitaan. Akantetapi kemolekan dewi sri sering diganggu oleh hama dan cuaca yang tak menentu, sehingga gubuk harus merana terkapar menahan lapar. “Semua punya cara, tinggal kerjakan sedikit usaha!”, itu kata kakek tua si penjaga gubuk di tengah sawah.
Hari-hari tinggal di tengah hamparan sawah dan bermain dengan cangkul bersama boneka penghalau unggas. Sawah yang luas tak urung mengendorkan semangatnya untuk menguras keringat di tanah yang telah ia garap selama bertahun-tahun. Sawah sudah menjadi teman setianya. Berada di rumah tanpa mencium aroma pucuk padi membuat ototnya lunglai serupa daging alot yang menempel di tubuhnya. Yati pun sering dibawanya untuk singgah di gubuk tuanya dan bermain bersama padi-padi yang runduk merinai di antara dedaunan yang tajam hendak menjaga dewi sri dari ancaman bahaya. Temannya hanya sawah dengan padinya. Ia tak kenal orang lain selain Yati, cucunya bahkan tak mau tahu apa yang dilakukan orang lain. Begitu cintanya dia dengan dewi sri sehingga ia tak mau membagi cintanya kepada siapa-siapa.
Di desa ini onggokan tanah dijadikan sawah dan ladang sehingga kiri kanan jalan akan tampak banyak juntaian emas dari keringat para petani. Hampir semua penduduk mempunyai sawah, termasuk ninik mamak dan tokoh masyarakatnya. Semua hidup dari kesejahteraan yang diberi oleh dewi sri. Setiap panen tak lupa mereka berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang diberikan dewi sri terhadap sawah mereka. Semua dicakup dalam upacara terima kasih yang sangat diminati para petani desa ini.
Lain orang desa, lain lagi kakek tua. Dia tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh masyarakat yang juga merupakan petani padi. Hidup dengan kesendirian hanya bertemankan sawah di gubuk reyot jauh dari kebisingan desa. Yang kakek tahu hanya telaten mengurusi padi. Egois yang menenangkan jiwa itu yang dia lakukan. Semedinya ada pada padi. Hari-hari hanya ada padi. Semua cerita tentang padi. Yati menjadi sedikit tersisih dengan padi. Cucu kesayangannya ini kerap kali ia dongengkan tentang dewi sri. Mengajaknya bermain bersama dewi sri. Siapa itu dewi sri?
Pagi itu butir-butir padi mulai nampak jernih dalam benih di petak sawah. Pantulan mentari seakan melukiskan wajah senyum pada dedaunan mungil di tengah sawah. Petani tampak sibuk menghambur-hamburkan serbuk pupuk di benih padi mereka. Dengan tertatih kakek tua pun mengeluarkan sekarung pupuk untuk dewi srinya. Meniti pematang sawah dan mengucapkan selamat pagi pada dewi sri. Tampak benih kakek tua paling riang, hijau dan subur di antara benih yang lain. Petak sawah tampak penuh diisi benih yang gemulainya indah melambai matahari. Para petani riang dalam doa agar padinya hidup dan tumbuh dengan indah.
Sekolah usai saat matahari telah berada tepat di atas kepala. Yati dibawa kakeknya menuju petak sawah untuk pamerkan dewi srinya.
“Dewi sri indah melambai bumi. Kau lihat, Ya!”
“Sangat indah dia menghidupi kita. Apakah kita tidak perlu memberikannya hadiah, Kek?”
“Tidak usah. Dia bisa hidup tanpa diberi hadiah.”
Yati menjadi sedikit bingung. Semua indah tanpa hadiah. Prinsip ini selalu dipakai kakek tua saat menikmati ranum bau sawah. Dia telah terbiasa melihat siklus hidup padi sebagai teman dari gubuk tuanya. Semua berbau kesegaran. Gerak-gerik cangkul ia jadikan senam pagi untuk kesehatan diri. Begitupun keringat saat panas menyengat tubuhnya yang renta. Semua tampak indah tak kasat mata. Si kakek tua berjiwa muda dalam bekerja. Sehingga padinya enggan gagal untuk setiap panen tahunan.
Sawah telah ramai ditempati para petani pada setiap petaknya. Mengatur baris bibit padi yang ditancapkan pada coklat pekat lumpur sawah. Semua tampak seperti barisan indah di hari peringatan tujuhbelasan. Berjajar rapi dengan wajah yang berseri-seri sambil merapal doa untuk kesuburan padi mereka. Buk Anto, istri kepala desa sibuk dengan rantang yang dibawa untuk petani-petani yang membantu mengerjakan sawahnya. Semua terlihat seperti menari-nari layaknya merpati mematuk makanan. Pemandangan indah di tengah sawah.
Pematang sawah mengikuti alur langkah kakek tua yang sedang menuju bibit padi yang akan ia tanam dengan rapi. Ia hatur langkah kemudian meluncur di tengah sawah menyusun baris benih-benih padi. Walau sudah tua dia tidak mau berbagi pekerjaan dengan orang lain untuk mengerjakan sawahnya. Karena bagi dia memberi kesempatan orang lain untuk menyentuh padi miliknya sama saja merusak kemesraan dia dengan dewi sri. Ia kerjakan semua sawahnya sendiri, walau kadang ia hampir tidak bisa berdiri. Yatilah yang selalu menemani kakek tua, membawakannya rantang makanan, dan menemani dalam lelahnya.
“Kau cantik seperti dewi sri. Sedang aku adalah lumpur di tengah sawah. Kelak tubuhku akan menjadi tanah dan kau akan memetik buah di atas gembur lelahku.”
Padi telah berada di pertengahan usia. Petani mulai sibuk mencari rerumputan, menghias ember kecil dengan sesajen berisi syarat pesta Kenduhi Padoi. Semua tampak seperti gambaran hutan mini. Isi ember penuh dengan hiasan kundao, satawa, sedingin, setajien, kumpae, sekeha, pelepah pisang dingin, umput antae, pade itam, daun bunga iku ayam, jaluwiang, dan jenis rumput syarat sesajen lainnya. Semua terlihat segar dan indah dan ditambah dengan jambia pelengkap hutan mini. Wajah berseri para petani menyuarakan kegirangan menyambut pesta padi. Sawah di siang layaknya pengantin baru, bersih dan rapi. Di sungai tampak ramai petani mencari ikan untuk lauk pada pesta padi. Gadis-gadis kecilpun ikut girang menunggu datanganya pesta.
Sementara di gubuk Yati tampak murung melihat batang padi yang terus tumbuh. Kakek tua sibuk mencabut rumput padinya. Kakek tua tidak pernah merasa perlu untuk menghadiahi padinya dengan pesta padi. Semua terlihat kekanak-kanakan baginya. Tapi bagi Yati, bisa menenteng ember berisi hutan mini seperti gadis kecil lainnya dengan wajah ceria menuju lapangan pesta sangat ia idam-idamkan.
“Kakek, Yati ingin jadi dewi sri pembawa ember hutan mini.”
Kakek tua hanya diam. Baginya itu hal konyol yang dilakukan oleh masyarakat tani. “Penolak bala koq pesta, seharusnya racun pemusnah hama dan berbahagia dengan panen yang memuaskan.” Tanpa ia sadari, ia jauh dari rasa syukur. Ia lupa kebahagiaan saat bertemankan berkah padi. Semua hanya sebagai siklus yang selalu berjalan mulus asal berjalan di tahapan yang lurus.
Jumat telah mengumandangkan adzan. Jamaah berkopiah telah berkumpul untuk bertemu sang Illahi. Sedang para gadis kecil telah bersiap-siap untuk membawa hutan mininya masing-masing. Ibu petani bersiap dengan nasi yang dibalut daun pisang serta lauk dari tangkapan di sungai. Semua tampak tak sabar untuk menuju lapangan pesta. Sementara kaum adam telah selesai dengan pertemuannya, para hawa berhamburan menuju lapangan. Menenteng hiasan sesajen dan makanan. Semua terkumpul di tengah lapangan pesta. Indah bersaing tampak hiasan-hiasan sesajen. Semua bergumul duduk merapat menunggu mulainya ritual adat.
Para lelaki telah siap mengelilingi sesajian. Ninik mamak dan ulama telah duduk di muka hiasan. Nyanyian Qur’an dan barzanji mengiringi jalannya ritual. Begitu indah dengan lautan petani yang berseri-seri. Sambut menyambut kata para ninik mamak pembuka menuju doa. Pnao bersahut-sahutan dalam riang. Doa dirajut sebagai harapan. Semua hutan mini disiram dengan air doa. Tari-tarian tak kalah menyemarakkan pesta. Semua datang bersuka cita hingga yang sakit ikut datang meramaikan pesta. Nasi-lauk direbut dalam mengambil berkah Kenduhi Padoi. Anak yang sakit akan dijauhkan dari penyakit bila memakan nasi berkah Kenduhi Padoi. Siapa yang tak berbahagia dengan datangnya pesta padi.
Semua lelah hilang dalam kegembiraan. Hutan mini diarak menuju sawah berharap dewi sri ikut berbahagia dengan datangnya pesta. Seisi ember hutan mini dihamburkan ke tengah sawah. Indahnya bulir padi diharapkan seindah hutan mini. Harapan tercurah dalam hamburan rerumputan syarat Kenduhi Padoi. Kakek tua hanya tersenyum menonton. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Apakah ia ikut berbahagia atau malah sebaliknya.
Bulir padi mulai mengucur di sela-sela daun. Saat itulah perjuangan dimulai dalam menghadapi sebuah ancaman. Hama mulai mendekat mencumbu padi. Burung dan tikus mulai merayu. Para petani mulai dirundung kecemasan atas panen padinya. Padi yang dirayu olehnya akan mulai layu. Saat itu terjadi, maka gagal panen akan merenda di sudut petak sawah.
Padi kakek tua terlihat indah dan subur. Belum ada yang bisa menyentuhnya. Tapi pagi itu semua tampak seperti petak mati. Suram tanpa jernih bulir padi. Kakek tua bergegas menuju dewi srinya. Semua bulir padi telah dihadiahkan kepada hama dan tikus. Berbagi kenikmatan yang menyakitkan. Kakek tua marah dan dihancurkannya petak sawah. Petak sawah telah dilalui hama kelaparan. Ia terus susuri sawah hingga tak tahu arah yang akan ia lalui.
***
Jambi, 29 April 2014
Keterangan:
Kenduhi Padoi: Pesta padi yang dilakukan oleh masyarakat Kerinci setelah padi di siang, dilakukan setiap satu kali panen
kundao, satawa, sedingin, setajien, kumpae, sekeha, pelepah pisang dingin, umput antae, pade itam, daun bunga iku ayam, jaluwiang: syarat-syarat untuk mendapatkan berkah kesuburan padi
Jambia              : Beras yang dihaluskan dicampur dengan kunyit
Siang                 : Mencabut rumput liar pada padi
ninik mamak      : pemuka adat





Tidak ada komentar:

Posting Komentar