KENDUHI PADOI DEWI
SRI
Herti Gustina
Sinar mentari mulai memancarkan semburat keceriaan di tengah
hamparan sawah yang hijau. Tampak berseri dedaunan menyapa pagi. Tampak
menyilang menyanding daun, butir-butir padi menuai merunduk di bungkuk batang.
Bagai untaian zamrud di khatulistiwa tanah Indonesia. Sangat indah subur tanah
melahirkan kekayaan di tengah penderitaan. Akantetapi kemolekan dewi sri sering
diganggu oleh hama dan cuaca yang tak menentu, sehingga gubuk harus merana
terkapar menahan lapar. “Semua punya cara, tinggal kerjakan sedikit usaha!”,
itu kata kakek tua si penjaga gubuk di tengah sawah.
Hari-hari tinggal di tengah hamparan sawah dan bermain dengan
cangkul bersama boneka penghalau unggas. Sawah yang luas tak urung mengendorkan
semangatnya untuk menguras keringat di tanah yang telah ia garap selama
bertahun-tahun. Sawah sudah menjadi teman setianya. Berada di rumah tanpa
mencium aroma pucuk padi membuat ototnya lunglai serupa daging alot yang
menempel di tubuhnya. Yati pun sering dibawanya untuk singgah di gubuk tuanya
dan bermain bersama padi-padi yang runduk merinai di antara dedaunan yang tajam
hendak menjaga dewi sri dari ancaman bahaya. Temannya hanya sawah dengan padinya.
Ia tak kenal orang lain selain Yati, cucunya bahkan tak mau tahu apa yang
dilakukan orang lain. Begitu cintanya dia dengan dewi sri sehingga ia tak mau
membagi cintanya kepada siapa-siapa.
Di desa ini onggokan tanah dijadikan sawah dan ladang sehingga kiri
kanan jalan akan tampak banyak juntaian emas dari keringat para petani. Hampir
semua penduduk mempunyai sawah, termasuk ninik mamak dan tokoh
masyarakatnya. Semua hidup dari kesejahteraan yang diberi oleh dewi sri. Setiap
panen tak lupa mereka berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah
yang diberikan dewi sri terhadap sawah mereka. Semua dicakup dalam upacara terima
kasih yang sangat diminati para petani desa ini.
Lain orang desa, lain lagi kakek tua. Dia tidak peduli dengan
apapun yang dilakukan oleh masyarakat yang juga merupakan petani padi. Hidup
dengan kesendirian hanya bertemankan sawah di gubuk reyot jauh dari kebisingan
desa. Yang kakek tahu hanya telaten mengurusi padi. Egois yang menenangkan jiwa
itu yang dia lakukan. Semedinya ada pada padi. Hari-hari hanya ada padi. Semua
cerita tentang padi. Yati menjadi sedikit tersisih dengan padi. Cucu
kesayangannya ini kerap kali ia dongengkan tentang dewi sri. Mengajaknya
bermain bersama dewi sri. Siapa itu dewi sri?
Pagi itu butir-butir padi mulai nampak jernih dalam benih di petak
sawah. Pantulan mentari seakan melukiskan wajah senyum pada dedaunan mungil di
tengah sawah. Petani tampak sibuk menghambur-hamburkan serbuk pupuk di benih
padi mereka. Dengan tertatih kakek tua pun mengeluarkan sekarung pupuk untuk
dewi srinya. Meniti pematang sawah dan mengucapkan selamat pagi pada dewi sri.
Tampak benih kakek tua paling riang, hijau dan subur di antara benih yang lain.
Petak sawah tampak penuh diisi benih yang gemulainya indah melambai matahari.
Para petani riang dalam doa agar padinya hidup dan tumbuh dengan indah.
Sekolah usai saat matahari telah berada tepat di atas kepala. Yati
dibawa kakeknya menuju petak sawah untuk pamerkan dewi srinya.
“Dewi sri indah melambai bumi. Kau lihat, Ya!”
“Sangat indah dia menghidupi kita. Apakah kita tidak perlu
memberikannya hadiah, Kek?”
“Tidak usah. Dia bisa hidup tanpa diberi hadiah.”
Yati menjadi sedikit bingung. Semua indah tanpa hadiah. Prinsip ini
selalu dipakai kakek tua saat menikmati ranum bau sawah. Dia telah terbiasa
melihat siklus hidup padi sebagai teman dari gubuk tuanya. Semua berbau
kesegaran. Gerak-gerik cangkul ia jadikan senam pagi untuk kesehatan diri.
Begitupun keringat saat panas menyengat tubuhnya yang renta. Semua tampak indah
tak kasat mata. Si kakek tua berjiwa muda dalam bekerja. Sehingga padinya
enggan gagal untuk setiap panen tahunan.
Sawah telah ramai ditempati para petani pada setiap petaknya.
Mengatur baris bibit padi yang ditancapkan pada coklat pekat lumpur sawah. Semua
tampak seperti barisan indah di hari peringatan tujuhbelasan. Berjajar rapi
dengan wajah yang berseri-seri sambil merapal doa untuk kesuburan padi mereka.
Buk Anto, istri kepala desa sibuk dengan rantang yang dibawa untuk
petani-petani yang membantu mengerjakan sawahnya. Semua terlihat seperti
menari-nari layaknya merpati mematuk makanan. Pemandangan indah di tengah
sawah.
Pematang sawah mengikuti alur langkah kakek tua yang sedang menuju
bibit padi yang akan ia tanam dengan rapi. Ia hatur langkah kemudian meluncur
di tengah sawah menyusun baris benih-benih padi. Walau sudah tua dia tidak mau
berbagi pekerjaan dengan orang lain untuk mengerjakan sawahnya. Karena bagi dia
memberi kesempatan orang lain untuk menyentuh padi miliknya sama saja merusak
kemesraan dia dengan dewi sri. Ia kerjakan semua sawahnya sendiri, walau kadang
ia hampir tidak bisa berdiri. Yatilah yang selalu menemani kakek tua,
membawakannya rantang makanan, dan menemani dalam lelahnya.
“Kau cantik seperti dewi sri. Sedang aku adalah lumpur di tengah
sawah. Kelak tubuhku akan menjadi tanah dan kau akan memetik buah di atas
gembur lelahku.”
Padi telah berada di pertengahan usia. Petani mulai sibuk mencari
rerumputan, menghias ember kecil dengan sesajen berisi syarat pesta Kenduhi
Padoi. Semua tampak seperti gambaran hutan mini. Isi ember penuh dengan
hiasan kundao, satawa, sedingin, setajien, kumpae, sekeha, pelepah pisang
dingin, umput antae, pade itam, daun bunga iku ayam, jaluwiang, dan jenis
rumput syarat sesajen lainnya. Semua terlihat segar dan indah dan ditambah
dengan jambia pelengkap hutan mini. Wajah berseri para petani
menyuarakan kegirangan menyambut pesta padi. Sawah di siang layaknya
pengantin baru, bersih dan rapi. Di sungai tampak ramai petani mencari ikan
untuk lauk pada pesta padi. Gadis-gadis kecilpun ikut girang menunggu
datanganya pesta.
Sementara di gubuk Yati tampak murung melihat batang padi yang
terus tumbuh. Kakek tua sibuk mencabut rumput padinya. Kakek tua tidak pernah
merasa perlu untuk menghadiahi padinya dengan pesta padi. Semua terlihat
kekanak-kanakan baginya. Tapi bagi Yati, bisa menenteng ember berisi hutan mini
seperti gadis kecil lainnya dengan wajah ceria menuju lapangan pesta sangat ia
idam-idamkan.
“Kakek, Yati ingin jadi dewi sri pembawa ember hutan mini.”
Kakek tua hanya diam. Baginya itu hal konyol yang dilakukan oleh
masyarakat tani. “Penolak bala koq pesta, seharusnya racun pemusnah hama
dan berbahagia dengan panen yang memuaskan.” Tanpa ia sadari, ia jauh dari rasa
syukur. Ia lupa kebahagiaan saat bertemankan berkah padi. Semua hanya sebagai
siklus yang selalu berjalan mulus asal berjalan di tahapan yang lurus.
Jumat telah mengumandangkan adzan. Jamaah berkopiah telah berkumpul
untuk bertemu sang Illahi. Sedang para gadis kecil telah bersiap-siap untuk
membawa hutan mininya masing-masing. Ibu petani bersiap dengan nasi yang
dibalut daun pisang serta lauk dari tangkapan di sungai. Semua tampak tak sabar
untuk menuju lapangan pesta. Sementara kaum adam telah selesai dengan
pertemuannya, para hawa berhamburan menuju lapangan. Menenteng hiasan sesajen
dan makanan. Semua terkumpul di tengah lapangan pesta. Indah bersaing tampak
hiasan-hiasan sesajen. Semua bergumul duduk merapat menunggu mulainya ritual
adat.
Para lelaki telah siap mengelilingi sesajian. Ninik mamak
dan ulama telah duduk di muka hiasan. Nyanyian Qur’an dan barzanji mengiringi
jalannya ritual. Begitu indah dengan lautan petani yang berseri-seri. Sambut
menyambut kata para ninik mamak pembuka menuju doa. Pnao
bersahut-sahutan dalam riang. Doa dirajut sebagai harapan. Semua hutan mini
disiram dengan air doa. Tari-tarian tak kalah menyemarakkan pesta. Semua datang
bersuka cita hingga yang sakit ikut datang meramaikan pesta. Nasi-lauk direbut
dalam mengambil berkah Kenduhi Padoi. Anak yang sakit akan dijauhkan
dari penyakit bila memakan nasi berkah Kenduhi
Padoi. Siapa yang tak berbahagia
dengan datangnya pesta padi.
Semua lelah hilang dalam kegembiraan.
Hutan mini diarak menuju sawah berharap dewi sri ikut berbahagia dengan
datangnya pesta. Seisi ember hutan mini dihamburkan ke tengah sawah. Indahnya
bulir padi diharapkan seindah hutan mini. Harapan tercurah dalam hamburan
rerumputan syarat Kenduhi Padoi. Kakek tua hanya tersenyum menonton. Entah apa yang ada di pikirannya
saat itu. Apakah ia ikut berbahagia atau malah sebaliknya.
Bulir padi mulai mengucur di sela-sela
daun. Saat itulah perjuangan dimulai dalam menghadapi sebuah ancaman. Hama
mulai mendekat mencumbu padi. Burung dan tikus mulai merayu. Para petani mulai
dirundung kecemasan atas panen padinya. Padi yang dirayu olehnya akan mulai
layu. Saat itu terjadi, maka gagal panen akan merenda di sudut petak sawah.
Padi kakek tua terlihat indah dan subur.
Belum ada yang bisa menyentuhnya. Tapi pagi itu semua tampak seperti petak
mati. Suram tanpa jernih bulir padi. Kakek tua bergegas menuju dewi srinya.
Semua bulir padi telah dihadiahkan kepada hama dan tikus. Berbagi kenikmatan
yang menyakitkan. Kakek tua marah dan dihancurkannya petak sawah. Petak sawah
telah dilalui hama kelaparan. Ia terus susuri sawah hingga tak tahu arah yang
akan ia lalui.
***
Jambi,
29 April 2014
Keterangan:
Kenduhi Padoi: Pesta padi yang dilakukan oleh masyarakat Kerinci setelah padi di
siang, dilakukan setiap satu kali panen
kundao, satawa, sedingin, setajien, kumpae, sekeha, pelepah pisang
dingin, umput antae, pade itam, daun bunga iku ayam, jaluwiang: syarat-syarat untuk mendapatkan berkah
kesuburan padi
Jambia :
Beras yang dihaluskan dicampur dengan kunyit
Siang : Mencabut rumput liar pada padi
ninik mamak : pemuka
adat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar