KEPALA
dengan 10 ORGAN
Beri
aku 10 pemuda,
Maka
akan kuguncang dunia
Pernyataan ini sering disebut-sebut dan telah terukir dalam sejarah
Indonesia. Beberapa tahun yang silam, satu tokoh memproklamirkan semangat
nasionalisme dengan memvalidkan pemuda sebagai pendobrak perubahan dunia. Namun
pernyataan ini seakan menjadi misteri yang tak pernah terkuak sampai sekarang.
Semuanya tampak menjawab, akantetapi tidak ada satupun jawaban yang muncul.
Lalu pemuda seperti apakah yang mampu mengguncang dunia? Apakah pemuda yang
bertubuh tegap yang duduk di bawah rindang pohon bersama seorang lelaki yang
sambil menyulam senyum di bibirnya yang tipis? Atau mungkin pemuda berpakaian
rapi yang sedari tadi melihat di sekeliling tempat ini sambil menunjukkan
kepada seseorang sesuatu yang sedang dilihatnya? Semua pemuda berkumpul, namun
ada banyak pemuda yang harus diseleksi hingga terpilih 10 pemuda yang akan
mendobrak dunia.
“10 kepala dalam 1 tubuh. Apakah mungkin?” terbesit tanya dari si
kecil Tini. Seorang perempuan kecil berada di tengah-tengah lautan manusia yang
berlomba-lomba menduduki kursi pemuda pengguncang dunia. Ada banyak manusia
dengan beragam rupa memperebutkan sesuatu yang menjadi mimpi dan khayalan.
Dengan berbagai cara mencuri muka mengalihkan pandangan agar tertuju padanya.
Tini kecil clingak-clinguk melihat keberagaman yang tidak ia mengerti. Kadang
ia tersenyum, seketika pula ia cemberut bahkan memekikkan kemarahan di
muka-muka yang melintas di hadapannya. Semua membawa sesuatu dengan berbagai
variasi, tapi hanya beberapa yang ia terima. Namun di antara yang diterimanya,
tidak sedikit yang dibuangnya lagi. Ada yang terlihat buruk disampul, namun ada
juga yang tampak molek dihiasi sampul yang meyakinkan mata. Ketika sampul
dibuka isi tak menjamin kesegaran mata yang memandang. Mata bisa saja
melelehkan airmata ketika melihatnya, bahkan perih hingga mengeluarkan darah
kenestapaan. Semua dilihatnya serupa memilihkan baju terbaik yang hendak ia
pakai di hari lebaran nantinya. Sehingga baju itu bisa membawanya kepada
kesempurnaan yang suci.
“Andai saja di hari lebaran kelak.........”, Tini memejamkan mata.
Sekumpulan orang tersenyum sambil menunduk pada kepala. Rasa terima
kasih menyandarkan rasa hormat yang teramat pada satu kepala yang di dalamnya
terdapat otak yang menggerakkan syaraf-syaraf tubuh kepada posisi nyaman. Tubuh
pun akan dengan pasrah menuruti segala sesuatu yang membuat dirinya menjadi
begitu berharga. Tanah surga yang ia kepal kemudian ia panenkan dengan jari
tangannya sendiri. Dengan senang hati peluh menjadi air sejuk yang memenuhi
kolam renang di belakang rumah. Kepala kemudian mengangguk untuk memberikan apa
yang telah dikerjakan oleh tubuh untuk dijadikannya harta karun bersama yang
nantinya akan dibagikan pada setiap organ pemilik tanah surga sehingga darah
mengalir merata ke seluruh organ tubuh membawa sari-sari makanan ke semua
bagian yang lelah.
Tikus pun tertunduk diam memenjara di sudut kotor tempat berbagai
dosa menyelinap di otak-otak yang membelit. Mereka bersandar di tiang-tiang
besi yang berjajar rapi. Sambil bersembunyi melihat tarian topi caping
memainkan pacul. Senyum si topi caping menyuarakan semangat keringat yang terus
mengucurkan emas, berlian milik mereka yang tanpa sengaja menyalurkan arus ke
otak-otak yang lusuh. Tikus tersebut kemudian mulai menyentuh, membasuh, hingga
merendam tubuhnya. Lalu ia bersihkan segala kotoran yang melekat hingga
terlihat bersih untuk dipakaikan pakaian putih di hari lebaran.
Kemudian tanah diolah dengan jari tangan otak-otak yang lahir dari
sari pati tanah milik mereka. Kepala tidak duduk diam melihat apa yang
dikerjakan organ-organ tubuh. Dengan memeras otak memainkan syaraf-syaraf
menggerakkan motorik tubuh dengan gerak-gerik gesit yang memancarkan sinar
layaknya kedipan bintang-bintang di permukaan bumi. Semua arus tersalurkan
menerangi hingga ke sudut-sudut kota. Begitu terang hingga kepala dan seluruh
tubuh dapat tersenyum lebar menyambut datangnya hari besar. Kepuasan terasa
saat kepala benar-benar ada untuk mereka. Kepala jauhkan dari apa yang tak
layak ada untuk mereka. Lalu dia dan meraka sama-sama ada dalam satu lingkup
yang sama. Mereka dengan tanpa harus ada sesuatu menempatkan kepala untuk
berada di atas mereka.
Saat lebaran tiba, semua telah menjadi sama. Aku, mereka dan dia
yang membawa 10 bahkan 1000 juta pemuda untuk dapat mengguncang dunia. Semua
berbaris rapi. Berjejer per syaf. Merapatkan barisan demi satu tujuan suci.
Tanpa ada niat yang ternodai menghapus lembaran-lembaran suram masa silam.
Mencahayakan gelap yang dulu telah meradang di tanah yang dahulunya si asing
mengatakan tanah surga ladang baginya, namun pemiliknya miskin dijajah tuannya
sendiri. Semua telah rata sama. Si asing mengakui kesamaan mereka dan pergi
karena terasingkan. Kesamaan mereka menjadi rata dari, untuk, dan oleh
otak-otak dari sari pati tanah sendiri. Semua hidup dalam satu kesamaan. Satu
kepala ditopang oleh 10 organ melahirkan pemerataan.
“Aah... Mimpi yang indah. Andai semuanya nyata.” Perlahan Tini
membuka matanya. Kemudian melihat ke kiri, kanan, depan, belakang, hingga ke
sekelilingnya, semua masih terlihat sama. Orang-orang masih dalam pasar yang
isinya suara-suara. Semua tampak menjajalkan janji-janji ke setiap pemilik
suara. Tampak meyakinkan dengan wajah yang selalu menyulam senyum. Dipoles
dengan bedak yang menyembunyikan cacat. Sempurna, tinggal dikenakan pakaian
yang berisikan naskah visi misi masa depan. “Aduhai, aku hampir terbujuk
rayunya.”
“Apakah ini akan tetap sama sampai lebaran tiba?”
Ketika semua orang berbondong-bondong ke masjid dengan kain serba
putih. Lalu bersama-sama menyusun barisan. Merapikan syaf. Kemudian menyamakan
gerakan serta bacaan. Setelah itu, bersama-sama mendengarkan khotbah bahkan
sampai meneteskan air mata mengingat dosa masa silam. Sesaat setelah itu,
barisan dibubarkan. Pakaian putih dibuka berganti dengan pakaian dengan variasi
bentuk dan warna. Bahan dasar kain pun beragam rasa di kulit. Dari kain sutera
dengan hiasan emas melilit di tubuhnya hingga kain lusuh tak bermerk, kotor,
kumal bahkan benang-benang bertirai lepas dari lilitannya. Uluran salam sambung
menyambung tanpa ada pertimbangan. Salam pun bervariasi rasa dengan tujuan yang
berbeda-beda. Sulit untuk menemukan dimana satu yang mampu menggerakkan sepuluh
organ untuk mengguncang dunia. Semuanya telah terlihat berbeda ketika kain
putih berganti warna.
***
DATA
DIRI
Nama saya Herti Gustina, perempuan kelahiran Sarko, 22 Agustus
1994. Seorang mahasiswi semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra
Indonesia dan Daerah, jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi. Mulai menggemari karya sastra sejak di
bangku SMA kelas XII dan mulai menuliskan karya-karya berupa puisi dan prosa
sejak menduduki bangku perkuliahan. Beberapa karya puisi telah diterbitkan di
koran daerah dan dipublikasikan di jejaring sosial. Sekarang tengah menggemari
dan mempelajari karya berupa prosa fiksi.
Dengan ini saya menyatakan bahwa karya yang saya tuliskan
benar-benar asli (original) karangan saya dan belum pernah dipublikasikan atau
diikutsertakan dalam lomba yang sama.
Alamat:
Kemajuan Blok L, Mendalo, Jambi
No.
Hp: 081274466982
Tidak ada komentar:
Posting Komentar