Selasa, 23 Desember 2014

KEPALA dengan 10 ORGAN



KEPALA dengan 10 ORGAN

Beri aku 10 pemuda,
Maka akan kuguncang dunia
Pernyataan ini sering disebut-sebut dan telah terukir dalam sejarah Indonesia. Beberapa tahun yang silam, satu tokoh memproklamirkan semangat nasionalisme dengan memvalidkan pemuda sebagai pendobrak perubahan dunia. Namun pernyataan ini seakan menjadi misteri yang tak pernah terkuak sampai sekarang. Semuanya tampak menjawab, akantetapi tidak ada satupun jawaban yang muncul. Lalu pemuda seperti apakah yang mampu mengguncang dunia? Apakah pemuda yang bertubuh tegap yang duduk di bawah rindang pohon bersama seorang lelaki yang sambil menyulam senyum di bibirnya yang tipis? Atau mungkin pemuda berpakaian rapi yang sedari tadi melihat di sekeliling tempat ini sambil menunjukkan kepada seseorang sesuatu yang sedang dilihatnya? Semua pemuda berkumpul, namun ada banyak pemuda yang harus diseleksi hingga terpilih 10 pemuda yang akan mendobrak dunia.
“10 kepala dalam 1 tubuh. Apakah mungkin?” terbesit tanya dari si kecil Tini. Seorang perempuan kecil berada di tengah-tengah lautan manusia yang berlomba-lomba menduduki kursi pemuda pengguncang dunia. Ada banyak manusia dengan beragam rupa memperebutkan sesuatu yang menjadi mimpi dan khayalan. Dengan berbagai cara mencuri muka mengalihkan pandangan agar tertuju padanya. Tini kecil clingak-clinguk melihat keberagaman yang tidak ia mengerti. Kadang ia tersenyum, seketika pula ia cemberut bahkan memekikkan kemarahan di muka-muka yang melintas di hadapannya. Semua membawa sesuatu dengan berbagai variasi, tapi hanya beberapa yang ia terima. Namun di antara yang diterimanya, tidak sedikit yang dibuangnya lagi. Ada yang terlihat buruk disampul, namun ada juga yang tampak molek dihiasi sampul yang meyakinkan mata. Ketika sampul dibuka isi tak menjamin kesegaran mata yang memandang. Mata bisa saja melelehkan airmata ketika melihatnya, bahkan perih hingga mengeluarkan darah kenestapaan. Semua dilihatnya serupa memilihkan baju terbaik yang hendak ia pakai di hari lebaran nantinya. Sehingga baju itu bisa membawanya kepada kesempurnaan yang suci.
“Andai saja di hari lebaran kelak.........”, Tini memejamkan mata.
Sekumpulan orang tersenyum sambil menunduk pada kepala. Rasa terima kasih menyandarkan rasa hormat yang teramat pada satu kepala yang di dalamnya terdapat otak yang menggerakkan syaraf-syaraf tubuh kepada posisi nyaman. Tubuh pun akan dengan pasrah menuruti segala sesuatu yang membuat dirinya menjadi begitu berharga. Tanah surga yang ia kepal kemudian ia panenkan dengan jari tangannya sendiri. Dengan senang hati peluh menjadi air sejuk yang memenuhi kolam renang di belakang rumah. Kepala kemudian mengangguk untuk memberikan apa yang telah dikerjakan oleh tubuh untuk dijadikannya harta karun bersama yang nantinya akan dibagikan pada setiap organ pemilik tanah surga sehingga darah mengalir merata ke seluruh organ tubuh membawa sari-sari makanan ke semua bagian yang lelah.
Tikus pun tertunduk diam memenjara di sudut kotor tempat berbagai dosa menyelinap di otak-otak yang membelit. Mereka bersandar di tiang-tiang besi yang berjajar rapi. Sambil bersembunyi melihat tarian topi caping memainkan pacul. Senyum si topi caping menyuarakan semangat keringat yang terus mengucurkan emas, berlian milik mereka yang tanpa sengaja menyalurkan arus ke otak-otak yang lusuh. Tikus tersebut kemudian mulai menyentuh, membasuh, hingga merendam tubuhnya. Lalu ia bersihkan segala kotoran yang melekat hingga terlihat bersih untuk dipakaikan pakaian putih di hari lebaran.
Kemudian tanah diolah dengan jari tangan otak-otak yang lahir dari sari pati tanah milik mereka. Kepala tidak duduk diam melihat apa yang dikerjakan organ-organ tubuh. Dengan memeras otak memainkan syaraf-syaraf menggerakkan motorik tubuh dengan gerak-gerik gesit yang memancarkan sinar layaknya kedipan bintang-bintang di permukaan bumi. Semua arus tersalurkan menerangi hingga ke sudut-sudut kota. Begitu terang hingga kepala dan seluruh tubuh dapat tersenyum lebar menyambut datangnya hari besar. Kepuasan terasa saat kepala benar-benar ada untuk mereka. Kepala jauhkan dari apa yang tak layak ada untuk mereka. Lalu dia dan meraka sama-sama ada dalam satu lingkup yang sama. Mereka dengan tanpa harus ada sesuatu menempatkan kepala untuk berada di atas mereka.
Saat lebaran tiba, semua telah menjadi sama. Aku, mereka dan dia yang membawa 10 bahkan 1000 juta pemuda untuk dapat mengguncang dunia. Semua berbaris rapi. Berjejer per syaf. Merapatkan barisan demi satu tujuan suci. Tanpa ada niat yang ternodai menghapus lembaran-lembaran suram masa silam. Mencahayakan gelap yang dulu telah meradang di tanah yang dahulunya si asing mengatakan tanah surga ladang baginya, namun pemiliknya miskin dijajah tuannya sendiri. Semua telah rata sama. Si asing mengakui kesamaan mereka dan pergi karena terasingkan. Kesamaan mereka menjadi rata dari, untuk, dan oleh otak-otak dari sari pati tanah sendiri. Semua hidup dalam satu kesamaan. Satu kepala ditopang oleh 10 organ melahirkan pemerataan.
“Aah... Mimpi yang indah. Andai semuanya nyata.” Perlahan Tini membuka matanya. Kemudian melihat ke kiri, kanan, depan, belakang, hingga ke sekelilingnya, semua masih terlihat sama. Orang-orang masih dalam pasar yang isinya suara-suara. Semua tampak menjajalkan janji-janji ke setiap pemilik suara. Tampak meyakinkan dengan wajah yang selalu menyulam senyum. Dipoles dengan bedak yang menyembunyikan cacat. Sempurna, tinggal dikenakan pakaian yang berisikan naskah visi misi masa depan. “Aduhai, aku hampir terbujuk rayunya.”
“Apakah ini akan tetap sama sampai lebaran tiba?”
Ketika semua orang berbondong-bondong ke masjid dengan kain serba putih. Lalu bersama-sama menyusun barisan. Merapikan syaf. Kemudian menyamakan gerakan serta bacaan. Setelah itu, bersama-sama mendengarkan khotbah bahkan sampai meneteskan air mata mengingat dosa masa silam. Sesaat setelah itu, barisan dibubarkan. Pakaian putih dibuka berganti dengan pakaian dengan variasi bentuk dan warna. Bahan dasar kain pun beragam rasa di kulit. Dari kain sutera dengan hiasan emas melilit di tubuhnya hingga kain lusuh tak bermerk, kotor, kumal bahkan benang-benang bertirai lepas dari lilitannya. Uluran salam sambung menyambung tanpa ada pertimbangan. Salam pun bervariasi rasa dengan tujuan yang berbeda-beda. Sulit untuk menemukan dimana satu yang mampu menggerakkan sepuluh organ untuk mengguncang dunia. Semuanya telah terlihat berbeda ketika kain putih berganti warna.
***



DATA DIRI
Nama saya Herti Gustina, perempuan kelahiran Sarko, 22 Agustus 1994. Seorang mahasiswi semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi. Mulai menggemari karya sastra sejak di bangku SMA kelas XII dan mulai menuliskan karya-karya berupa puisi dan prosa sejak menduduki bangku perkuliahan. Beberapa karya puisi telah diterbitkan di koran daerah dan dipublikasikan di jejaring sosial. Sekarang tengah menggemari dan mempelajari karya berupa prosa fiksi.
Dengan ini saya menyatakan bahwa karya yang saya tuliskan benar-benar asli (original) karangan saya dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam lomba yang sama.
Alamat: Kemajuan Blok L, Mendalo, Jambi
No. Hp: 081274466982

Tidak ada komentar:

Posting Komentar