Kamis, 25 Desember 2014

KENDUHI PADOI DEWI SRI



KENDUHI PADOI DEWI SRI
Herti Gustina
Sinar mentari mulai memancarkan semburat keceriaan di tengah hamparan sawah yang hijau. Tampak berseri dedaunan menyapa pagi. Tampak menyilang menyanding daun, butir-butir padi menuai merunduk di bungkuk batang. Bagai untaian zamrud di khatulistiwa tanah Indonesia. Sangat indah subur tanah melahirkan kekayaan di tengah penderitaan. Akantetapi kemolekan dewi sri sering diganggu oleh hama dan cuaca yang tak menentu, sehingga gubuk harus merana terkapar menahan lapar. “Semua punya cara, tinggal kerjakan sedikit usaha!”, itu kata kakek tua si penjaga gubuk di tengah sawah.
Hari-hari tinggal di tengah hamparan sawah dan bermain dengan cangkul bersama boneka penghalau unggas. Sawah yang luas tak urung mengendorkan semangatnya untuk menguras keringat di tanah yang telah ia garap selama bertahun-tahun. Sawah sudah menjadi teman setianya. Berada di rumah tanpa mencium aroma pucuk padi membuat ototnya lunglai serupa daging alot yang menempel di tubuhnya. Yati pun sering dibawanya untuk singgah di gubuk tuanya dan bermain bersama padi-padi yang runduk merinai di antara dedaunan yang tajam hendak menjaga dewi sri dari ancaman bahaya. Temannya hanya sawah dengan padinya. Ia tak kenal orang lain selain Yati, cucunya bahkan tak mau tahu apa yang dilakukan orang lain. Begitu cintanya dia dengan dewi sri sehingga ia tak mau membagi cintanya kepada siapa-siapa.
Di desa ini onggokan tanah dijadikan sawah dan ladang sehingga kiri kanan jalan akan tampak banyak juntaian emas dari keringat para petani. Hampir semua penduduk mempunyai sawah, termasuk ninik mamak dan tokoh masyarakatnya. Semua hidup dari kesejahteraan yang diberi oleh dewi sri. Setiap panen tak lupa mereka berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang diberikan dewi sri terhadap sawah mereka. Semua dicakup dalam upacara terima kasih yang sangat diminati para petani desa ini.
Lain orang desa, lain lagi kakek tua. Dia tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh masyarakat yang juga merupakan petani padi. Hidup dengan kesendirian hanya bertemankan sawah di gubuk reyot jauh dari kebisingan desa. Yang kakek tahu hanya telaten mengurusi padi. Egois yang menenangkan jiwa itu yang dia lakukan. Semedinya ada pada padi. Hari-hari hanya ada padi. Semua cerita tentang padi. Yati menjadi sedikit tersisih dengan padi. Cucu kesayangannya ini kerap kali ia dongengkan tentang dewi sri. Mengajaknya bermain bersama dewi sri. Siapa itu dewi sri?
Pagi itu butir-butir padi mulai nampak jernih dalam benih di petak sawah. Pantulan mentari seakan melukiskan wajah senyum pada dedaunan mungil di tengah sawah. Petani tampak sibuk menghambur-hamburkan serbuk pupuk di benih padi mereka. Dengan tertatih kakek tua pun mengeluarkan sekarung pupuk untuk dewi srinya. Meniti pematang sawah dan mengucapkan selamat pagi pada dewi sri. Tampak benih kakek tua paling riang, hijau dan subur di antara benih yang lain. Petak sawah tampak penuh diisi benih yang gemulainya indah melambai matahari. Para petani riang dalam doa agar padinya hidup dan tumbuh dengan indah.
Sekolah usai saat matahari telah berada tepat di atas kepala. Yati dibawa kakeknya menuju petak sawah untuk pamerkan dewi srinya.
“Dewi sri indah melambai bumi. Kau lihat, Ya!”
“Sangat indah dia menghidupi kita. Apakah kita tidak perlu memberikannya hadiah, Kek?”
“Tidak usah. Dia bisa hidup tanpa diberi hadiah.”
Yati menjadi sedikit bingung. Semua indah tanpa hadiah. Prinsip ini selalu dipakai kakek tua saat menikmati ranum bau sawah. Dia telah terbiasa melihat siklus hidup padi sebagai teman dari gubuk tuanya. Semua berbau kesegaran. Gerak-gerik cangkul ia jadikan senam pagi untuk kesehatan diri. Begitupun keringat saat panas menyengat tubuhnya yang renta. Semua tampak indah tak kasat mata. Si kakek tua berjiwa muda dalam bekerja. Sehingga padinya enggan gagal untuk setiap panen tahunan.
Sawah telah ramai ditempati para petani pada setiap petaknya. Mengatur baris bibit padi yang ditancapkan pada coklat pekat lumpur sawah. Semua tampak seperti barisan indah di hari peringatan tujuhbelasan. Berjajar rapi dengan wajah yang berseri-seri sambil merapal doa untuk kesuburan padi mereka. Buk Anto, istri kepala desa sibuk dengan rantang yang dibawa untuk petani-petani yang membantu mengerjakan sawahnya. Semua terlihat seperti menari-nari layaknya merpati mematuk makanan. Pemandangan indah di tengah sawah.
Pematang sawah mengikuti alur langkah kakek tua yang sedang menuju bibit padi yang akan ia tanam dengan rapi. Ia hatur langkah kemudian meluncur di tengah sawah menyusun baris benih-benih padi. Walau sudah tua dia tidak mau berbagi pekerjaan dengan orang lain untuk mengerjakan sawahnya. Karena bagi dia memberi kesempatan orang lain untuk menyentuh padi miliknya sama saja merusak kemesraan dia dengan dewi sri. Ia kerjakan semua sawahnya sendiri, walau kadang ia hampir tidak bisa berdiri. Yatilah yang selalu menemani kakek tua, membawakannya rantang makanan, dan menemani dalam lelahnya.
“Kau cantik seperti dewi sri. Sedang aku adalah lumpur di tengah sawah. Kelak tubuhku akan menjadi tanah dan kau akan memetik buah di atas gembur lelahku.”
Padi telah berada di pertengahan usia. Petani mulai sibuk mencari rerumputan, menghias ember kecil dengan sesajen berisi syarat pesta Kenduhi Padoi. Semua tampak seperti gambaran hutan mini. Isi ember penuh dengan hiasan kundao, satawa, sedingin, setajien, kumpae, sekeha, pelepah pisang dingin, umput antae, pade itam, daun bunga iku ayam, jaluwiang, dan jenis rumput syarat sesajen lainnya. Semua terlihat segar dan indah dan ditambah dengan jambia pelengkap hutan mini. Wajah berseri para petani menyuarakan kegirangan menyambut pesta padi. Sawah di siang layaknya pengantin baru, bersih dan rapi. Di sungai tampak ramai petani mencari ikan untuk lauk pada pesta padi. Gadis-gadis kecilpun ikut girang menunggu datanganya pesta.
Sementara di gubuk Yati tampak murung melihat batang padi yang terus tumbuh. Kakek tua sibuk mencabut rumput padinya. Kakek tua tidak pernah merasa perlu untuk menghadiahi padinya dengan pesta padi. Semua terlihat kekanak-kanakan baginya. Tapi bagi Yati, bisa menenteng ember berisi hutan mini seperti gadis kecil lainnya dengan wajah ceria menuju lapangan pesta sangat ia idam-idamkan.
“Kakek, Yati ingin jadi dewi sri pembawa ember hutan mini.”
Kakek tua hanya diam. Baginya itu hal konyol yang dilakukan oleh masyarakat tani. “Penolak bala koq pesta, seharusnya racun pemusnah hama dan berbahagia dengan panen yang memuaskan.” Tanpa ia sadari, ia jauh dari rasa syukur. Ia lupa kebahagiaan saat bertemankan berkah padi. Semua hanya sebagai siklus yang selalu berjalan mulus asal berjalan di tahapan yang lurus.
Jumat telah mengumandangkan adzan. Jamaah berkopiah telah berkumpul untuk bertemu sang Illahi. Sedang para gadis kecil telah bersiap-siap untuk membawa hutan mininya masing-masing. Ibu petani bersiap dengan nasi yang dibalut daun pisang serta lauk dari tangkapan di sungai. Semua tampak tak sabar untuk menuju lapangan pesta. Sementara kaum adam telah selesai dengan pertemuannya, para hawa berhamburan menuju lapangan. Menenteng hiasan sesajen dan makanan. Semua terkumpul di tengah lapangan pesta. Indah bersaing tampak hiasan-hiasan sesajen. Semua bergumul duduk merapat menunggu mulainya ritual adat.
Para lelaki telah siap mengelilingi sesajian. Ninik mamak dan ulama telah duduk di muka hiasan. Nyanyian Qur’an dan barzanji mengiringi jalannya ritual. Begitu indah dengan lautan petani yang berseri-seri. Sambut menyambut kata para ninik mamak pembuka menuju doa. Pnao bersahut-sahutan dalam riang. Doa dirajut sebagai harapan. Semua hutan mini disiram dengan air doa. Tari-tarian tak kalah menyemarakkan pesta. Semua datang bersuka cita hingga yang sakit ikut datang meramaikan pesta. Nasi-lauk direbut dalam mengambil berkah Kenduhi Padoi. Anak yang sakit akan dijauhkan dari penyakit bila memakan nasi berkah Kenduhi Padoi. Siapa yang tak berbahagia dengan datangnya pesta padi.
Semua lelah hilang dalam kegembiraan. Hutan mini diarak menuju sawah berharap dewi sri ikut berbahagia dengan datangnya pesta. Seisi ember hutan mini dihamburkan ke tengah sawah. Indahnya bulir padi diharapkan seindah hutan mini. Harapan tercurah dalam hamburan rerumputan syarat Kenduhi Padoi. Kakek tua hanya tersenyum menonton. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Apakah ia ikut berbahagia atau malah sebaliknya.
Bulir padi mulai mengucur di sela-sela daun. Saat itulah perjuangan dimulai dalam menghadapi sebuah ancaman. Hama mulai mendekat mencumbu padi. Burung dan tikus mulai merayu. Para petani mulai dirundung kecemasan atas panen padinya. Padi yang dirayu olehnya akan mulai layu. Saat itu terjadi, maka gagal panen akan merenda di sudut petak sawah.
Padi kakek tua terlihat indah dan subur. Belum ada yang bisa menyentuhnya. Tapi pagi itu semua tampak seperti petak mati. Suram tanpa jernih bulir padi. Kakek tua bergegas menuju dewi srinya. Semua bulir padi telah dihadiahkan kepada hama dan tikus. Berbagi kenikmatan yang menyakitkan. Kakek tua marah dan dihancurkannya petak sawah. Petak sawah telah dilalui hama kelaparan. Ia terus susuri sawah hingga tak tahu arah yang akan ia lalui.
***
Jambi, 29 April 2014
Keterangan:
Kenduhi Padoi: Pesta padi yang dilakukan oleh masyarakat Kerinci setelah padi di siang, dilakukan setiap satu kali panen
kundao, satawa, sedingin, setajien, kumpae, sekeha, pelepah pisang dingin, umput antae, pade itam, daun bunga iku ayam, jaluwiang: syarat-syarat untuk mendapatkan berkah kesuburan padi
Jambia              : Beras yang dihaluskan dicampur dengan kunyit
Siang                 : Mencabut rumput liar pada padi
ninik mamak      : pemuka adat





Selasa, 23 Desember 2014

KEPALA dengan 10 ORGAN



KEPALA dengan 10 ORGAN

Beri aku 10 pemuda,
Maka akan kuguncang dunia
Pernyataan ini sering disebut-sebut dan telah terukir dalam sejarah Indonesia. Beberapa tahun yang silam, satu tokoh memproklamirkan semangat nasionalisme dengan memvalidkan pemuda sebagai pendobrak perubahan dunia. Namun pernyataan ini seakan menjadi misteri yang tak pernah terkuak sampai sekarang. Semuanya tampak menjawab, akantetapi tidak ada satupun jawaban yang muncul. Lalu pemuda seperti apakah yang mampu mengguncang dunia? Apakah pemuda yang bertubuh tegap yang duduk di bawah rindang pohon bersama seorang lelaki yang sambil menyulam senyum di bibirnya yang tipis? Atau mungkin pemuda berpakaian rapi yang sedari tadi melihat di sekeliling tempat ini sambil menunjukkan kepada seseorang sesuatu yang sedang dilihatnya? Semua pemuda berkumpul, namun ada banyak pemuda yang harus diseleksi hingga terpilih 10 pemuda yang akan mendobrak dunia.
“10 kepala dalam 1 tubuh. Apakah mungkin?” terbesit tanya dari si kecil Tini. Seorang perempuan kecil berada di tengah-tengah lautan manusia yang berlomba-lomba menduduki kursi pemuda pengguncang dunia. Ada banyak manusia dengan beragam rupa memperebutkan sesuatu yang menjadi mimpi dan khayalan. Dengan berbagai cara mencuri muka mengalihkan pandangan agar tertuju padanya. Tini kecil clingak-clinguk melihat keberagaman yang tidak ia mengerti. Kadang ia tersenyum, seketika pula ia cemberut bahkan memekikkan kemarahan di muka-muka yang melintas di hadapannya. Semua membawa sesuatu dengan berbagai variasi, tapi hanya beberapa yang ia terima. Namun di antara yang diterimanya, tidak sedikit yang dibuangnya lagi. Ada yang terlihat buruk disampul, namun ada juga yang tampak molek dihiasi sampul yang meyakinkan mata. Ketika sampul dibuka isi tak menjamin kesegaran mata yang memandang. Mata bisa saja melelehkan airmata ketika melihatnya, bahkan perih hingga mengeluarkan darah kenestapaan. Semua dilihatnya serupa memilihkan baju terbaik yang hendak ia pakai di hari lebaran nantinya. Sehingga baju itu bisa membawanya kepada kesempurnaan yang suci.
“Andai saja di hari lebaran kelak.........”, Tini memejamkan mata.
Sekumpulan orang tersenyum sambil menunduk pada kepala. Rasa terima kasih menyandarkan rasa hormat yang teramat pada satu kepala yang di dalamnya terdapat otak yang menggerakkan syaraf-syaraf tubuh kepada posisi nyaman. Tubuh pun akan dengan pasrah menuruti segala sesuatu yang membuat dirinya menjadi begitu berharga. Tanah surga yang ia kepal kemudian ia panenkan dengan jari tangannya sendiri. Dengan senang hati peluh menjadi air sejuk yang memenuhi kolam renang di belakang rumah. Kepala kemudian mengangguk untuk memberikan apa yang telah dikerjakan oleh tubuh untuk dijadikannya harta karun bersama yang nantinya akan dibagikan pada setiap organ pemilik tanah surga sehingga darah mengalir merata ke seluruh organ tubuh membawa sari-sari makanan ke semua bagian yang lelah.
Tikus pun tertunduk diam memenjara di sudut kotor tempat berbagai dosa menyelinap di otak-otak yang membelit. Mereka bersandar di tiang-tiang besi yang berjajar rapi. Sambil bersembunyi melihat tarian topi caping memainkan pacul. Senyum si topi caping menyuarakan semangat keringat yang terus mengucurkan emas, berlian milik mereka yang tanpa sengaja menyalurkan arus ke otak-otak yang lusuh. Tikus tersebut kemudian mulai menyentuh, membasuh, hingga merendam tubuhnya. Lalu ia bersihkan segala kotoran yang melekat hingga terlihat bersih untuk dipakaikan pakaian putih di hari lebaran.
Kemudian tanah diolah dengan jari tangan otak-otak yang lahir dari sari pati tanah milik mereka. Kepala tidak duduk diam melihat apa yang dikerjakan organ-organ tubuh. Dengan memeras otak memainkan syaraf-syaraf menggerakkan motorik tubuh dengan gerak-gerik gesit yang memancarkan sinar layaknya kedipan bintang-bintang di permukaan bumi. Semua arus tersalurkan menerangi hingga ke sudut-sudut kota. Begitu terang hingga kepala dan seluruh tubuh dapat tersenyum lebar menyambut datangnya hari besar. Kepuasan terasa saat kepala benar-benar ada untuk mereka. Kepala jauhkan dari apa yang tak layak ada untuk mereka. Lalu dia dan meraka sama-sama ada dalam satu lingkup yang sama. Mereka dengan tanpa harus ada sesuatu menempatkan kepala untuk berada di atas mereka.
Saat lebaran tiba, semua telah menjadi sama. Aku, mereka dan dia yang membawa 10 bahkan 1000 juta pemuda untuk dapat mengguncang dunia. Semua berbaris rapi. Berjejer per syaf. Merapatkan barisan demi satu tujuan suci. Tanpa ada niat yang ternodai menghapus lembaran-lembaran suram masa silam. Mencahayakan gelap yang dulu telah meradang di tanah yang dahulunya si asing mengatakan tanah surga ladang baginya, namun pemiliknya miskin dijajah tuannya sendiri. Semua telah rata sama. Si asing mengakui kesamaan mereka dan pergi karena terasingkan. Kesamaan mereka menjadi rata dari, untuk, dan oleh otak-otak dari sari pati tanah sendiri. Semua hidup dalam satu kesamaan. Satu kepala ditopang oleh 10 organ melahirkan pemerataan.
“Aah... Mimpi yang indah. Andai semuanya nyata.” Perlahan Tini membuka matanya. Kemudian melihat ke kiri, kanan, depan, belakang, hingga ke sekelilingnya, semua masih terlihat sama. Orang-orang masih dalam pasar yang isinya suara-suara. Semua tampak menjajalkan janji-janji ke setiap pemilik suara. Tampak meyakinkan dengan wajah yang selalu menyulam senyum. Dipoles dengan bedak yang menyembunyikan cacat. Sempurna, tinggal dikenakan pakaian yang berisikan naskah visi misi masa depan. “Aduhai, aku hampir terbujuk rayunya.”
“Apakah ini akan tetap sama sampai lebaran tiba?”
Ketika semua orang berbondong-bondong ke masjid dengan kain serba putih. Lalu bersama-sama menyusun barisan. Merapikan syaf. Kemudian menyamakan gerakan serta bacaan. Setelah itu, bersama-sama mendengarkan khotbah bahkan sampai meneteskan air mata mengingat dosa masa silam. Sesaat setelah itu, barisan dibubarkan. Pakaian putih dibuka berganti dengan pakaian dengan variasi bentuk dan warna. Bahan dasar kain pun beragam rasa di kulit. Dari kain sutera dengan hiasan emas melilit di tubuhnya hingga kain lusuh tak bermerk, kotor, kumal bahkan benang-benang bertirai lepas dari lilitannya. Uluran salam sambung menyambung tanpa ada pertimbangan. Salam pun bervariasi rasa dengan tujuan yang berbeda-beda. Sulit untuk menemukan dimana satu yang mampu menggerakkan sepuluh organ untuk mengguncang dunia. Semuanya telah terlihat berbeda ketika kain putih berganti warna.
***



DATA DIRI
Nama saya Herti Gustina, perempuan kelahiran Sarko, 22 Agustus 1994. Seorang mahasiswi semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jambi. Mulai menggemari karya sastra sejak di bangku SMA kelas XII dan mulai menuliskan karya-karya berupa puisi dan prosa sejak menduduki bangku perkuliahan. Beberapa karya puisi telah diterbitkan di koran daerah dan dipublikasikan di jejaring sosial. Sekarang tengah menggemari dan mempelajari karya berupa prosa fiksi.
Dengan ini saya menyatakan bahwa karya yang saya tuliskan benar-benar asli (original) karangan saya dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam lomba yang sama.
Alamat: Kemajuan Blok L, Mendalo, Jambi
No. Hp: 081274466982

Kamis, 18 Desember 2014

SEGELINTIR CAHAYA DI DALAM DOA



SEGELINTIR CAHAYA DI DALAM DOA
HG
 
Setelah lama menanti sesuatu yang tak pasti. Kini cahaya itu mulai tampak, setelah menapak di seribuan kilo jalan yang penuh lika-liku. Ku temukan hidayah yang telah lama kucari dalam sekelompok kecil kafilah. Saat ku berpacu pada pilihan hingga ku tentukan pilihan untuk mengikuti jalan ini. Dan ternyata pilihan ini tepat. Telah layak ku bersyukur sebagai wujud sujud atas rahmat-Nya.
Saat pertamaku membuka mata di studi pengetahuan, aku melihat aneh fashion modis para ukhti ilahi. Hatiku membisikkan “Apa ini, teroriskah? Atau fashiontoris?”. Ku selimuti pertanyaanku dengan mengikuti jejak ditapakan suci ahli syurgawi. Akantetapi, desas-desis angin mengibas pikiranku. Kata manis, ajakan sadis sempat menggoyahkan langkah kakiku. Namun perlahan tapi pasti kuhentakkan kaki membalik diri kembali berkecimpung dalam wadah sajadah.
Aku semakin merasa seperti diselimuti dengan kesejukkan saat sang ukhti membalutkan dengan kata lembutnya. Sungguh bulu romaku menggelincirkan sedikit demi sedikit perbuatan nista yang hina. Saat pertama ku ditatah, ia katakan padaku “Kebaikan itu bukan untuk ditunggu tapi untuk dicari”. Kusematkan syairnya di hatiku, walau setengah hatiku masih memelas lemas. Syair kedua pun berkumandang “Yang menghancurkan agamamu adalah kaummu sendiri”. Syair kedua kubuktikan dengan mendengar desas-desus nyata para manusia. Pro kontra membuatnya pecah, saling menghujam panah nanah. Namun aku masih berada di tengah anak panah. Aku masih mencari kebaikan itu, dengan cara dan pikiranku sendiri.
Suatu malam ku dapatkan masalah yang memapah jenazahku dalam ruang kegalauan. Ku tanya dua kaum yang masih menyisih selisih. Kubandingkan jawaban atas satu pertanyaanku. Jawaban itu membuatku atur langkah dalam gundah. Susah memang saat harus mengatur langkah, sementara kaki masih memapah. Jawaban dari satu kaum membuatku tergugah “Yakinkan hati, serahkan diri, arah baik akan ditentukan oleh-Nya”. Sejak malam itu, kuputuskan untuk kembali mengukir jejak bersama orang-orang hebat yang mampu memupuk semangatku semakin menggelora.
Pagi buta ku membuka mata, walau susah tapi perkataanya membuat tiga ikatanku lepas hingga ku dapat bersimpuh di hadapan-Nya. Mengadu suka duka yang ingin dan hendakku lakukan. Terus beraktivitas dan tidak menyisakan ruang vakum yang mampu sang api isi. Lalu kembali menemuinya, sang pujangga suci pengingat hati.
Dalam studiku, dia ajarkan aku kehidupan dunia dan akhirat yang akan ku jalani. Kata-kata yang terus Ia ucapkan kadang membuatku jenuh, namun kata-kata itu selalu kurindukan. Entah untaian katanya yang indah atau selerai makna yang membuatku berkaca. “Tuhan,,inikah jalanku?” sembari menghitung tasbih di ujung jemariku. Ini mungkin belum pilihan, namun ini adalah pencarian.
Keesokan harinya kutemukan lagi masalah yang tak bisa menahanku untuk mengadu kepada si lembut hati si manis kata. Ia dengan sabarnya membelai kisahku dengan kata indahnya. Katanya “Saudaraku, masalah adalah ujian. Seperti halnya dalam ujian dalam belajar dan pembelajaran, hasil dari ujian tersebut adalah gambaran oleh apa yang kita usahakan selama ini yaitu kesabaran dalam menjalani menjawab soal-soal yang Dia berikan.”
Hari demi hari kujalani bersama kafilah kalifah bumi. Ia selalu sabar mendengar keluh kesahku. Ia tak segan  mengulurkan tangannya saatku terjatuh dan jenuh. Ini kurasakan beda dengan satu sisi kaum satunya lagi. Ia ramah tapi angkuh, peduli tapi sombong, semua yang dilakukannya hanya untuk eksistensi dunia yang mengatas namakan akhirat. Aku bagaikan orang munafik yang menebar senyum di dua kaum yang berbeda tapi sama. Apakah ini dosa atau bermakna, belum mampu kujawab dengan akal dangkalku. Kulakukan apa yang terbesit di sanubari, mengikuti langkah kaki. Ini tidak semudah yang ku bayangkan. Semua terasa sulit dan serba salah. Segalanya menjadi terjerat dalam kegalauan dan kegundah gulanaan. Ku mulai berpikir keras tentang suatu pilihan karena hidup adalah pilihan. Pilihan adalah keputusan dan keputusan adalah perjalanan.
Hari selanjutnya aku semakin haus dengan kata-katanya. Kucari dia dan kusalurkan keluh kesahku. Pesannya masih ku simpan “Hidup itu seperti gambar. Kalau tidak kita yang mewarnai, maka kita yang akan diwarnai”, katanya dalam tilawahnya. Aku telah diwarnai oleh kaumnya. Aku gagal mempertahankan warnaku. Aku tidak menyesal atas itu karena aku telah diwarnai dengan warna pelangi yang indah. Ini tidak seperti yang ku pikirkan, aku telah dipengaruhi oleh pikiran para kalifah-kalifah kafilah. Aku semakin dalam mengikuti jalannya.
Ini bukanlah akhir. Ini awal untukku berjalan memacu langkah. Katanya menjadi sandaranku saat ku terjatuh. Dan pasrahku atas keputusannya yang terbaik untukku. Itu menjadi peta dalam atlas hidupku. Saat aku membagi kesenangan dan kesedihan ku tuju kafilahku. Kutuangkan tangisku dan dan kulimpahkan tawaku di wadah kalifah.
Kini ku telah tentukan jalanku untuk menapaki jalan itu. Aku telah menjadi bagian dari barisan kafilah itu. Ku ikuti jalanku, namun aku belum memilih. Hanya berusaha mengejar kebaikan yang tak ingin ku tunggu. Pilihanku masih di ujung rel kereta.
28 Mei 2013