Kamis, 23 Januari 2014

YASIN TERAKHIR



YASIN TERAKHIR

Nasib ataukah takdir, dia hidup dalam genangan kehangatan keluarga. Gadis kecil yang kini beranjak dewasa. Riani gadis periang yang beruntung namun keuntungannya direnggut takdir. Wajahnya penuh kegirangan. Tutur katanya penuh kehangatan. Gadis kebanggaan Pak Sanu dan Bu Rahmi. Ia tak enggan melampiaskan kasih sayangnya kepada kedua orang tuanya dengan memberikan perhatian-perhatian. Dan orang tuanya pun menyambut kehangatannya dengan cinta yang berlimpah ruah. Selain itu kedua pasangan ini juga dianugrahi jagoan yang tak kalah hangatnya. Indah memang melihat kehangatan yang dipancarkan oleh keluarga ini. Kesederhanaan membuat mereka semakin saling berpegang erat dengan genggaman semangat. Sungguh kebahagiaan yang membuat lirikan orang menjadi iri, namun juga menjadi magnet yang dapat menarik manusia untuk termotivasi dengan apa yang mereka punyai. Ketulusan yang dimiliki individu dalam membangun kebersamaan.
Riani yang telah beranjak dewasa mulai melepaskan diri untuk dapat mandiri. Kuliah di daerah yang berbeda membuat waktu untuk membangun kehangatan menjadi begitu minim. Ia mulai sibuk dengan tugas-tugas yang cukup menyita waktu dan membuat remuk pikirannya. Pergaulan yang berbeda membuatnya terkadang lupa dengan kehangatan rumah. Tanpa sadarnya kadang ia pun berleha-leha menikmati dunia. Ia lupa bahwa ada hati yang selalu memeliharanya. Hati itu selalu menghangatkannya kembali. Mengingatkannya bahwa hati itu tak akan pergi jauh darinya. Itu yang membuatnya tetap bertahan dalam kehangatan. Nyanyian ceria selalu menjadi teman baiknya, karena tiada hari tanpa asupan perhatian yang hangat dari keluarganya.
Tidak sekedar di rumah, gadis beruntung inipun juga mendapatkan kehangatan dari sahabat yang selalu merekat erat. Ia selalu mendapatkan perhatian yang berlimpah ruah, karena ia pun tak segan-segan memberikan perhatian kepada orang lain yang ia sayangi. Memang ketulusan kapas putih yang lembut. Tapi seputih apapun kapas dia tetap akan dihinggapi noda. Tanpa sadarnya ia juga kadang tak bisa menimbang mana yang bisa membuat sesuatu itu seimbang. Lumrah memang, hidup sudah selayaknya tak punyai kesempurnaan karena kesempurnaan hanyalah milikNya.
Suatu hari bertepatan dengan hari ulang tahun ayahnya, Riani menyempatkan dirinya untuk pulang ke rumah, melepas semua beban kuliah yang kadang membuatnya jenuh. Ia membawa bingkisan kado yang berisikan jam tangan abu-abu bertuliskan Sanu. Dengan hati yang penuh berontak ingin meluapkan kebahagiaan, Riani menyerahkan kadonya.
“Yah, ini kado dari Ri. Mudah-mudahan ayah diberi umur yang panjang untuk bisa selalu ada untuk Ri, Ibuk, dan Adek. Ri, sayang ayah.” Ucap Riani sambil memeluk ayahnya.
“Ayah juga sayang Ri. Ri harus jadi anak yang baik ya. Kalau ayah sudah tidak ada nantinya Ri harus jaga ibuk dan adek.” sambil mengecup kening anaknya.
“Ayah kok ngomong seperti itu. Ayah akan selalu ada untuk Ri, ibuk, dan adek!” dengan wajah cemberut di pipi manisnya.
“Iya, iya. Yuk kita makan!”
Dalam nuansa hangat makan malam keluarga yang sedang berbahagia, terselip kecemasan di hati ayahnya. Entah kenapa ayahnya merasa gelisah. Ada suatu hal yang mengganggu pikirannya, tapi dia sendiri tak mengerti apa itu. Namun hangatnya dekapan keluarga sayang untuk dilewatkan begitu saja. Mereka habiskan hari itu untuk bercengkrama, meniupkan seruling kebahagiaan dalam nuansa indahnya fatamorgana dunia. Menatap satu per satu sepasang mata yang berbinar-binar memancarkan aroma mawar tanpa duri. Riani tampak hidup tanpa beban maupun derita yang giat mengincar hidup manusia. Ia tak ubahnya seperti putri yang dimanjakan oleh raja dan ratu yang sangat menyayanginya. Bergelimangan harta dalam wujud kasih sayang tanpa dihinggapi derita dan air mata.
Tak mungkin jika hidup tanpa air mata, karena selalu ada pergantian waktu, pergantian cuaca, musim hujan pasti akan datang setelah musim panas berlalu. Riani yang baru seminggu meninggalkan kampung halamannya mendengar kabar bahwa ayahnya sedang sakit. Tak ada yang bisa ia perbuat selain berdoa untuk kesembuhan ayahnya karena aktifitas kuliah tidak mengizinkannya untuk meninggalkan kampus. Seminggu lamanya ayahnya sakit, namun kuliah masih enggan memberinya waktu untuk keluar dari ruang rindu. Akhirnya semua kerinduan itu meledak, hingga ia tak bisa menahan diri meninggalkan kampus dan pulang untuk melihat ayahnya. Melihat kedatangan Riani, ayahnya menjadi tampak segar kembali. Dengan kelembutan jemarinya, Riani merawat ayahnya yang sedang sakit. Kondisi ayahnya sedikit demi sedikit semakin membaik.
Pagi itu, ayahnya meminta Riani untuk membuatkannya soto ceker kesukaan ayahnya. Riani pun membuatnya dan dengan telatennya, ia sendokkan suap demi suap makanan ke dalam mulut ayahnya.
“Ri, ayah ingin kembali. Ri jaga ibuk dan adek ya. Ayah ingin pulang.”
“ Ayah mau pulang kemana? Ini rumah kita, yah!” jawab Riani.
“Ri sayang ayah kan? Ayah minta tolong yasinkan ayah. Ayah sudah cukup lelah.”
“Ayah bicara apa sih? Ayah tidak boleh bicara seperti itu! Ayah pasti sembuh.”
Dengan menahan bendungan air di matanya, Riani lalu pergi meninggalkan ayahnya sendiri di kamar. Kesedihan menyelimuti hatinya yang teriris dengan ucapan pilu yang menyayat hati dari ayahnya. Bukan karena benci, tapi karena kasih sayang yang mendalam membuat Riani enggan untuk memenuhi perintah ayahnya.
Esok berganti, ayahnya beranjak membaik. Rasa sakit yang dideritanya seolah hilang dengan senyum ikhlas yang ia pancarkan. Dengan masih tertatih-tatih, Riani dilepas oleh ayahnya untuk kembali berangkat melanjutkan perkuliahan yang sempat jeda dari aktifitasnya. Riani berangkat dengan perasaan tenang, namun di hatinya masih tersembunyi kata-kata yang diucapkan ayahnya tersebut. Ingin ia buang jauh-jauh, namun ucapan ayahnya masih semu terdengar di benaknya.
Perjalanan panjang telah dilewati, paginya Riani sudah sampai dan tampak bersiap-siap untuk mengikuti perkuliahan. Di gerbang kampus ia telah disambut oleh sahabat-sahabatnya. Riani gelisah, diceritakannya apa yang mengganjal di hati. Tapi ini gejala hati, hanya hati yang dapat mengerti. Sahabatnya hanya bisa memberi respon positif untuk bisa memudarkan hal negatif yang mungkin terjadi. Keyakinan sahabatnya kalau itu hanyalah keinginan indah dari seorang ayah yang menyayangi anaknya. Jawaban sahabatnya membuat Riani menjadi sedikit tenang dan sejenak melupakan kata yang sulit untuk dipercaya.
Hari berlalu Riani menjalani harinya dengan mengejar segala ketertinggalannya selama meninggalkan perkuliahan. Semuanya berjalan lancar. Hampir semuanya telah dibereskan. Handphone ungu digenggamannya berdering, terdengar berita kalau dia harus pulang kembali. Salam rindu dari ayahnya terdengar lesu. “Mungkin ayah kelelahan, atau... akh, ayah cuma lelah.” Riani membisik di hati.
Kepulangan Riani disambut keramaian keluarga. Ayahnya terbaring lesu dengan semua alat yang terlihat menyemaki tubuhnya. Ayahnya tampak sesak. Riani pun ikut sesak dan tak sengaja melepas bendungan air yang sudah lama tertahan di matanya. Di kursi nampak ibunya yang nampak lelah terjaga. Ia kuatkan diri, perlahan berjalan menuju ibunya.
“Bu, ayah kenapa?” tanya Riani pelan.
“Bacakan yasin untuk ayah, nak. Biar cepat hilang rasa sakit ayahmu.”
“Tidak. Ri, tidak mau! Ri, akan membacakannya bersama ayah besok.” Sambil menderai tangis ia larikan diri menjauh dari keramaian.
Seminggu lamanya ayahnya terbaring di rumah sakit, penyakit ayahnya tetap begitu saja. Pagi itu, ayahnya nampak agak segar dari hari-hari biasanya. Ayahnya menyuruh Riani untuk kuliah dan menyelesaikan semua tugas-tugas kampus. Dengan berat hati Riani pun menuruti permintaan ayahnya. Riani nampak agak tenang karena kondisi ayahnya hari itu tampak mulai membaik. Di kampus ia ceritakan semua kebahagiaan yang ia rasakan. Ia ceritakan kalau ayahnya sudah mulai membaik. Temannya pun ikut berbahagia melihat senyum mulai merapat di bibirnya. Sepulangnya dari kampus ia tetap menyemai rasa bahagianya.

Di rumah sakit bergegas ia ingin melihat keadaan ayahnya, namun bak petir menyambar di siang hari. Ia dengar yasin semakin mendengung di kamar rawat ayahnya. Riani segera menuju ayahnya. Ayahnya tampak tersengal-sengal, seolah memanggil Riani untuk mendekat padanya. Dengan berurai air mata Riani mendekati ayahnya. Teringat olehnya keinginan ayahnya yang tempo lalu pernah ayahnya utarakan. Dengan rasa tak percaya, Riani berusaha ikhlas mengambil surat yasin, membacakan ayat demi ayat di samping ayahnya. Seiring dengan dibukanya alat-alat yang menyemaki tubuhnya, nafasnya pun semakin hilang. Ruh semakin dibawa jauh pergi meninggalkan dunia. Tanpa sadar hingga selesainya pembacaan yasin, Riani pun akhirnya menyadari bahwa ayahnya sudah tiada. Tangisan menyambar menghantam hatinya yang hilang. Tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi harapan. Terikat dalam ketidakpercayaan bahwa ayah sudah tiada. Bagaimana dia akan melanjutkan hidup? Semuanya terlihat suram. Namun kesan yang menjadi pesan terakhir ayahnya bahwa jangan tinggalkan senyum manismu itu. Bukan untuk satu waktu, tapi untuk selamanya kau harus tetap melukiskan pelangi itu. Tebarkan senyum bukan untuk dirimu sendiri tapi untuk orang lain yang ada di sekelilingmu.

8 Januari 2013, terinspirasi dari kisah AAS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar