KARMA
TAK BERMAKNA
Jambi,
10 Maret 2014
Semua
bermula dari kesalahan. Hayati ditemani harapan hampa bahwa kebahagiaan akan
datang padanya kelak. Hidupnya diselimuti kesendirian, tanpa kasih sayang penuh
dari dua orang yang ia kasihi. Pasang surut dan terpaan kehidupan membuatnya
tampak kuat namun rapuh serupa kayu tua. Hantaman kehidupan yang bertubi-tubi
membuatnya menjadi berhati keras, kasar, dan penuh api dendam. Jauh di lubuk
hati terdalamnya tersimpan keaslian mutiara bahwa dia adalah orang yang
penyayang, lembut, dan penuh kasih sayang.
Kematian
ibu adalah awal dari kekacauan. Hasrat ingin mengikuti kepergiaan ibunya tumbuh
dalam hati sepinya. Api kehidupan kini telah hampir padam ditiup kesedihan.
Hanya terbaring ditemani air mata menjadi rutinitas terbarunya. Siang menuai
air mata mengingat segala kenangan yang ada. Malamnya ditemani bayangan ibu
yang selalu menghantui malam indahnya. Untungnya, ada suami yang setia menemani
hari deritanya. Meniupkan nyawa kehidupan pada jiwa Hayati demi gadis kecil,
anak pertamanya.
Semenjak
kepergian ibunya Hayati hanya terbaring lesu di kamarnya. Pancaran bola mata si
anaklah yang masih membuatnya tetap bertahan walau semangat hidup seakan telah
padam bagi dirinya. Melihat keadaan istrinya, Adam pun menjadi bingung. Adam
hanya bisa menatap wajah istrinya tanpa bisa melakukan hal apapun. Ini bukanlah
penyakit, tapi rasa kehilangan yang berlebihan memanggilnya untuk ikut padam
mengikuti ruh yang hilang.
100
hari sudah Hayati hanya terbaring di kamarnya. Menangis kemudian menangis lagi.
Hingga akhirnya datanglah si ayah mengunjunginya. Hatinya sedikit terhibur
dengan kedatangan si ayah. Ayah yang sudah lama merantau ke negeri tetangga
untuk menghidupi keluarga kini hadir di depan matanya. Sudah lama kehangatan
dari sang ayah ia rindui, kini sedikit demi sedikit mulai ia rasakan kembali.
Nyala kehidupan perlahan mulai terang kembali dengan kehangatan sang ayah.
Selama berbulan-bulan ayahnya selalu mendampinginya melalui hari-hari sepinya
hingga perlahan-lahan ia mulai pulih kembali. Indah memang melihat ayah dan
anak yang sudah lama tak bertemu kini begitu akrab. Lengkaplah sudah rumahnya
dengan orang yang ia kasihi.
Enam
bulan sudah ayahnya menemani, ayahnya pun meminta izin untuk pulang mengunjungi
sanak saudara dan rumah yang kini gersang tanpa dihuni. Dengan ikhlas, Hayati
melepas kepergian ayahnya untuk pulang ke rumah dimana dahulu ia pernah
menikmati masa kecil hingga remaja. Kedatangan sang ayah ternyata menjadi obat
bagi sepi hati Hayati. Dan kepergian ayah untuk sementara kini bukanlah masalah
lagi baginya. Ia pun melanjutkan aktifitas biasa tanpa bayang-bayang sang ibu
lagi. Walau ia tak sepenuhnya bisa melupakan sang ibu, namun ia telah mampu
menghilangkan bayang-bayang ibu yang selalu menghantui kehidupannya. Ibu adalah
seseorang yang abadi di hati. Tak akan pernah terganti, apalagi terlupakan oleh
jarak dan waktu.
Seminggu
kepulangan ayah ia lewati dengan tetap berikhlas hati. Namun entah kabar yang
membahagiakan atau mungkin sebaliknya terdengar olehnya. Keputusan ayah untuk
beristri lagi kini tak tahu bagaimana harus ia hadapi. Ikhlas atau tidak,
itulah keputusan ayah. Ia pun menerima keputusan itu walau dengan berat hati.
Sedih kini kembali menyelimuti, tapi ia tetap berusaha ikhlas dengan jalan
takdir yang ia miliki. Ia sadar bahwa ada sepasang bola mata yang harus ia jaga
pancaran terangnya dan ada satu pria yang harus ia hargai keikhlasannya. Ia
lepas dekapan ayah ke pangkuan orang lain karena ia tahu hanya ada satu cinta
yang abadi terukir dan tak akan pernah terhapus di hati ayahnya. Cinta yang
tulus dari ibunya yang telah memberinya kebahagiaan, kedamaian, dan tak pernah
menuntut balas akan semua yang ia curahkan kepada ayah. Semua ia terima dengan
ikhlas dan lapang dada. Ia berharap inilah jalan terbaik yang Tuhan beri untuk
jalan hidupnya. Semua kini berjalan dengan sendiri-sendiri. Dia dan keluarganya
serta ayah dengan kehidupan barunya.
Kehidupan
baru ayahnya ternyata tidak lebih baik dari sebuah kehilangan. Ini bukan
sekedar duka namun luka mendalam bagi Hayati yang baru saja menjalani hari
terangnya. Tak cukup ibu yang tak bisa ia temui lagi. Kini dekapan ayah pun tak
bisa ia rindui lagi. Kehadiran orang ketiga membawa bencana. Tamparan kasar
dari kata-kata seorang ibu tiri membuatnya harus terpisah dengan ayah
kandungnya sendiri. Sungguh kejam hidup ini bagi Hayati. Sengketa dan derita
tak henti-hentinya menghujam kehidupannya. Entah salah apa yang telah ia
perbuat sehingga tak ada celah bahagia yang bisa ia lewati dengan mulus. Selalu
ada hantaman-hantaman keras yang menerpa kehidupannya. Mungkin inilah alur
hidup seorang Hayati. Bertahun-tahun tak menikmati indahnya hidup bersama ayah,
bertahun-tahun pula harus kehilangan sang ayah demi kejamnya seorang ibu tiri.
“Cintakah
ia pada ayahku? Samakah cintanya seperti cinta ibuku? Hingga ia tak rela
membagi kasih sayang ayahku untukku?”, itulah tanya yang melantun di hati
pilunya. “Kuikhlaskan ayah untuk kebahagiaanya, namun aku bersumpah tak akan
mengikhlaskan ayah karena dia.” Alangkah kejam kata yang harus ia ucapkan dalam
hati, namun itulah yang ada dalam hatinya. Kebencian menyesak di dadanya hingga
ia bersumpah untuk tidak akan memaafkan wanita yang telah merebut ayah darinya.
Tak akan pernah ia membalas kejahatan si penyihir itu, akantetapi tak akan juga
ia ikhlas dengan segala apa yang terjadi pada diri wanita itu.
Bertahun-tahun
menjalin hubungan dengan janda beranak satu itu, tak pernah hatinya tergerak
untuk menemui anak serta cucunya. Entah kasih yang seperti apa yang telah
menyihir ayahnya sehingga mereka harus
terpisah dengan sebuah kebencian. Tak cukup harta, tenaga pun tak segan-segan
ia berikan untuk istri barunya, bagai seorang budak yang sangat menghambakan
rajanya sehingga rela mengorbankan jiwa dan raga. Sakit hati pun Hayati pendam
demi kedamaian keluarga kecilnya. Walau bagaimanapun itu adalah ayahnya yang
telah diperbudak oleh orang tak berhati mulia. Apakah itu yang dinamakan cinta?
Entahlah, cinta yang telah membutakan mata, telinga, dan hati. Semua seakan
hanya untuk dia, bagaikan kacamata kuda yang dipasangkan pada kuda becak supaya
mengikuti arah dan perintah tuannya.
Sekian
tahun sudah tenaga diperas tanpa perasaan. Begitu lelah dan sangat menyakitkan.
Tak sanggup lagi ayahnya untuk memaksakan bekerja seperti biasanya, sedangkan
tuntutan sang istri masih serupa tanpa ada negosiasi. Dengan sakitnya, ia pun
mulai bosan dan pergi ke peristirahatannya gubuk lama yang tak berpenghuni
lagi. Dalam lelah, kerinduan pada anak cucu pun mulai muncul. Ada rasa segan
untuk mengadu lelah pada anak yang telah ia telantarkan sekian lama demi seseorang
yang kini ia kasihi. Dengan tertatih membawa sakit, ia beranikan diri untuk
menemui anaknya meminta hiba diri supaya diberikan istirahat yang nyaman.
Sesampainya di depan rumah tampak keluarga kecil sedang bercengkrama hangat.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Semuanya tampak hangat dan
membahagiakan. Sedang asyik bercerita, tak sengaja Hayati menoleh ke arah
ayahnya yang sedang mengharap hiba di depan pagar rumah. Dengan kebencian dan
tangis yang tertahan, segera ia pergi ke rumah tanpa berbicara apapun dengan
ayahnya. Anaknya lalu mengikuti dari belakang, sedang sang suami dengan hati
ikhlas membukakan pintu untuk ayah mertuanya yang telah lama tidak menemui
mereka lagi. Berceritalah tentang apa yang sedang ia alami saat ini. Adam hanya
bisa menjadi pendengar yang baik, semua tergantung istrinya untuk bisa menerima
ayahnya kembali. Ayahnya pun pulang dengan hati kecewa. Dia menyadari
kesalahannya yang telah menelantarkan anak, cucu serta menantu. Wajar bila
mereka tak bisa menerimanya untuk kembali. Sedang istri tak terima kalau tak
bertenaga untuk menghidupi keluarga. Ayah yang malang oleh ulahnya seorang.
Beberapa
hari setelah kedatangan ayahnya, Hayati selalu merenung memikirkan apa yang
harus ia lakukan. Berhari-hari ia berdebat dengan kebencian dan kasih sayang,
namun tak ada juga menemukan jalan keluar. Anaknya yang miskin kasih sayang
seorang kakekpun angkat bicara. “ Ibu, Tuhan saja maha pemaaf, kenapa ibu tidak
bisa memaafkan kakek? Izinkan aku untuk bisa merasakan hidup bersama seorang kakek,
Bu?”. Perdebatan hati pun terjawab sudah oleh ketulusan seorang anak yang
merindukan kasih sayang seorang kakek. Perlahan ia mengingat masa-masa indah
sewaktu bersama ayahnya, begitu hangat, tanpa cacat dan noda. Semua kebencian
tercoret sudah dengan keikhlasan ikatan darah ayah dan anak. Perih pedih
kenangan sewaktu ditinggal ayah demi orang ketiga ia lupakan sejenak demi
sebuah keikhlasan. Kedatangan ayah selanjutnya ia sambut dengan suka cita.
Dengan tulus ikhlas ia rawat tubuh yang tua renta berselimutkan penyakit
dimana-mana.
Semua
kesalahan masa lalu ayahnya ia hapus demi sebuah ketulusan. Kini tinggallah ia
merawat ayahnya yang sakit-sakitan tak bertenaga. Seperti sang perawat yang
menjaga dengan setulus hati pasien-pasiennya. Menemani lelahnya dan menuruti
segala keinginannya. Semua ia curahkan untuk kesembuhan ayahnya yang tak
berdaya lagi. Membasuh badan lusuhnya, membersihkan kotoran-kotorannya, menjaga
tidurnya layaknya pengasuh bayi yang terus menjaga bayinya. Sepenuhnya ia
melayani ayahnya hingga ia yakini ayahnya pasti akan sembuh.
Beberapa
bulan dirawat oleh tangan sang anak, berangsur-angsur keadaan ayahnya semakin
membaik. Ia pun telah bisa bermain dan bercanda kembali dengan cucu dan
menantunya. Kebahagiaan itu pun tampak indah bagai musim semi setelah sekian
lama tak berbunga. Semua seakan terlahir kembali dalam kebahagiaan keluarga
kecil itu. Begitupun Hayati yang telah sekian lama hidup dengan kebencian, kini
telah memudar oleh percikan keikhlasan hati yang tak ingin membenci.
Musim
semi ternyata tak lama karena harus berganti kembali dengan musim gugur. Hanya
dititipi sebentar untuk pengobat rindu. Kepulihan ayahnya dari sakit ternyata
tidak sepenuhnya menandakan kesembuhan. Hanya sekilas untuk membahagiakan
Hayati. Tuhan pun mengambil ayahnya dari Hayati. Karma apakah yang telah
menghakimi Hayati sehingga derita datang bertubi-tubi. Kehilangan orang yang ia kasihi kini tak
terelakkan lagi. semua telah menjadi keputusanNya. Tak ada satu makhlukpun yang
berani menolak takdirnya. Hayati harus dibanjiri air mata kembali. Air mata
yang mungkin tak akan ada hentinya lagi. karena semuanya telah pergi, lenyap
tak bersisa. Tak ada lagi keikhlasan. Tak ada lagi kebahagiaan. Hanya tinggal
sebuah tangisan yang berkepanjangan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar