Jumat, 20 Desember 2013

SAPU TANGAN PENGHAPUS LUKA



SAPU TANGAN PENGHAPUS LUKA

Kisahku berawal dari sini. Saat daun-daun berguguran di musim semi dan bunga tak bermekaran lagi. kuterdiam dan terpaku di bawah rindangan tanya akan sebuah penantian yang sia-sia, tapi inilah hidup harus ada kekalahan dalam perjuangan. Dan aku kalah. Aku lelah. Namun tetap kuhaturkan senyum simpulkan, karena setiap tanya pasti ada jawab, setiap derita pasti ada hikmahnya.
Perjalananku dimulai saat aku mengenalnya. Saska, sesosok pangeran berkuda putih yang tak sengaja melumpuhkan hatiku kepangkuannya. Tanpa sengaja hatiku terjerat dalam pertemuan singkat yang tak pernah kusangka-sangka. Sesosok yang melumpuhkan prinsip yang selama ini kugenggam erat dalam kepalan tanganku. Dulu aku berpikir bahwa cinta sepasang kekasih sama halnya dengan cinta sahabat yang merekat erat. Tapi dia menyihir prinsip yang telah lama menjadi kaedah hidupku. Aku tak menyesali itu karena dari dialah kumulai jelajahi perjuanganku.
Hidup tak ubahnya seperti misteri, pertemuan singkat malah menjadi hubungan yang erat. Selama bertahun-tahun kuukir kisah dengannya, walau kadang masalah tak enggan layangkan kesedihan di raut kertas yang telah menjuntai kisah.  Perbedaan menjadi alur dalam kisah kasih kami, namun perbedaan jualah yang menyatukan kami. Bukankah hidup berpasang-pasangan, ada tangis dan ada tawa, ada malam dan ada siang, ada gugur dan ada semi, ada lelaki dan ada wanita, ada miskin dan ada kaya, serta ada aku dan ada dia. Perbedaan menuai cerita yang selalu memuai massa dalam setiap langkah hidupnya. Kami yang beranjak dewasa mulai melangkah mencari jati diri. Namun, langkah yang kami pilih berlawanan arah sehingga kami harus terpisah di antara ruang yang tak berujung. Tapi kisah ini taklah berakhir sampai di sini.
Suatu hari, Saska yang memilih ke arah Selatan melayangkan kabar rindu di belahan bumi Utara. Ia mengabarkan bahwa dia hampir sampai di tujuannya. Aku yang dengan perlahan menempuh jalanku terpacu untuk melangkah lebih cepat untuk dapat sampai ke tujuanku. Dengan gembira kubalas rindu dengan kobaran semangat. Aku sangat berharap dia bisa cepat sampai ditujuannya agar dia bisa bawa diriku bersamanya. Perbedaan di antara kami kurasakan semakin menipis karena semua orang akan menyambut kembali kebahagian kisah kami.
Impian musnah dihadang panah sang penguasa. Di langkah terakhirnya menuju tujuan, Ia dihempas badai yang menerjangnya jauh di dasar tangga. Impiannya pupus, terhapus oleh air mata dan luka. Di sana kutegarkan hati karena seiring hempasan lukanya juga telah menghapus mimpi yang sudah kucanangkan di bait kisahku. Ku tampung air mataku untuk menghapus air matanya. Sapu tangan yang kugunakan tak lelah memompa semangatnya, mengumpulkan kepingan-kepingan mimpi yang terhempas di dasar luka. Dia sudah sangat tersiksa dan hatiku tak sanggup untuk biarkan dia berjalan sendiri. Kutegakkan tubuhnya bersandar dibahu kananku, kugenggam tangannya, lalu kubimbing dia untuk bisa melangkah lagi. Saat lukanya telah mulai kering, perlahan kubiarkan dia haturkan langkahnya sendiri dan seperti yang aku tahu dia selalu bisa bangkit kembali. Dia susun kembali puing mimpinya untuk mencapai puncak tujuannya. Akantetapi Tuhan memang punya cerita, Ia kembali dihujam derita. Luka yang dulunya masih terbekas di urat nadinya kini kembali dikoyak-koyakkan oleh sembilu. Ini jalannya, tapi aku masih terpaku mengikuti setiap derita yang Ia lalui. Aku hanya bisa menjadi sapu tangan untuknya, tanpa bisa berbuat apa-apa.
Perbedaan di antara kami memang tak bisa dipecahkan. Kisah cinta si kaya dan si miskin harus dibalut dengan luka. Namun perbedaan itu tetap kami ikat erat dalam kisah kasih kami. Namun satu janji yang selalu mengikat kami “Kami harus bisa sampai di tujuan kami masing-masing!”. Itulah yang mendorong kami untuk harus selalu bangkit. Namun Saska punya rencana lain, Ia berbalik arah memulai di titik nol. Di sana Ia masih menggenggam tanganku untuk kuatkan langkahnya. Akupun tak segan-segan memberikan uluran tangnku untuk dapat membimbingnya melangkah. Langkah pertamanya Ia genggam tanganku dengan sangat erat, hingga aku sama sekali tak bisa lepas darinya. Namun di langkah keduanya, perlahan Ia lepaskan tanganku saat tangan ini telah terbiasa digenggaman tangannya. Ia mencoba menjauh dengan alasan yang tak bisa kumengerti. Aku terjatuh seiring hilangnya tangan itu dari genggamanku. Tapi Ia tetap tak mau menatapku, hanya seuntai janji Ia lantunkan “Tunggu aku di jalan itu!” sembari menunjukkan arah tujuannya. Namun itu tetap tak mampu untukku terima. Dia lenyap dari hidupku.
Setahun lamanya aku tak pernah menerima kabar darinya. Kupendam dalam rasa rindu itu agar aku mampu melangkah tanpa dia di sisiku. Kuurung niatku untuk mengingatnya kembali. Hingga kemudian aku bertemu dengan sahabat yang bersedia melanjutkan kisahku. Walau bayangan itu masih tersimpan di benakku, tapi tetap kulanjutkan kisah ini dengan sahabat yang kini telah menjadi kekasihku. Ini bukan pelarian, hanya sebuah pergantian pena untuk lanjutkan menulis kisah kasihku. Engkau yang tak pernah kumengerti kini telah tergantikan olehnya. Syair bernyanyi seirama dengan terhapusnya dirimu diingatanku.
I WILL SURVIVE
hari ini aku di sini
berjuang untuk bertahan
padamkan luka dan beban yang ada
yang tlah membakar seluruh jiwa
kucoba resapi kucoba selami
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya
rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi
I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
kau berikan kekuatan
untuk lewati semua ini
hari ini kan kupastikan
aku masih ada disini
mencoba lepaskan, coba bebaskan
segala rasa perih di hati
kucoba resapi, kucoba hayati
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya, rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi
and I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
kauberikan kekuatan
'tuk lewati semua ini
Engkau slalu ada
di saat jiwaku rapuh, di kalaku jatuh
and I want you to know
that I will fight to survive,
I will not give up, I will not give in,
I'll stay alive for you... for you... for You...
I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
I will survive, I will revive
getting stronger to stay alive
kau berikan aku kekuatan
'tuk lewati semua ini
I will survive, I will revive
getting BIGGER... bigger than life
Engkau Yang Esa, Yang Perkasa
You give me reason to survive

Herti Gustina, 12 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar