WANITA DI TEPI DANAU KACA
Herti Gustina, 23 April 2014
Ada naskah, namun tak berlakon. Seorang wanita berkaca pada bening
telaga. Wajah indah merekah dipantul sinar mentari pagi. Mengenakan baju biru
bening membalut sekujur tubuh yang indah. Wajahnya sejuk seperti embun pagi.
Senyumnya mempesona memandang semua yang ada di alam. Semua lukisan alam
terpancar di bening matanya.
Pagi itu ia sedang duduk merenung di tepi telaga. Ia tampak sendiri
memendam gurindam yang tampak bernyanyi di komat-kamit bibirnya. Di sepinya ia
larutkan semua kalut seiring dengan gugurnya dedaunan menimpa permukaan telaga.
Bercerita dengan alam sebagai sebuah curhatan diri penghapus sepi. Memainkan
jemari di riak air diiringi tarian ikan-ikan yang saling berkejaran mengejar
makanan. Ikan itu membuatnya iri. “Mempunyai teman mungkin akan lebih berarti?”
pikirnya.
Dirunduk wajah indah dalam kesendirian hari-harinya. Tak sengaja
aku melihat ada yang menetes dari kelopak matanya, merembes jauh ke dasar Danau
Kaca. Air mata itu kemudian menjawab segala sepinya. Memanggil segala penjuru
alam untuk menyelimuti gigil dingin wajah pucat pasi. Suara tangis gema alam.
Batang ditebang menjadi ladang. Bakar hutan jadikan bangunan. Samar-samar
terdengar suara ratapan menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia tersungkur kesakitan
mencari teman. Namun aku pun belum sanggup menjadi temannya. Dari kejauhan
kulihat goresan luka menoreh wajahnya yang jelita. Namun senyum simpul tetap
membasahi telaga air mata untuk menyambut orang-orang yang diharapkan menjadi
temannya.
Sekejap cerita bisa menjadi lara. Wanita di tepi telaga menemukan
satu teman dari rasa yang tak kenal dosa. Ia sambut dengan sambutan hangat para
ikan yang melenggak-lenggokkan tubuhnya sambil mengipaskan ekor indahnya.
Menggoda untuk dapat memiliki. Merangsang rasa untuk dapat meraihnya. Sesaat
wanita di tepi telaga membukakan pintu untuk teman barunya. Kemudian dia tutup
dengan beningnya telaga Danau Kaca. Di senyum indahnya ia berkata “Inilah
tangisanku saat kau akan kubuat berbahagia di sini. Keindahanku ini adalah
untuk kebahagiaannmu.”
***
Diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet

Tidak ada komentar:
Posting Komentar