Kamis, 15 Mei 2014

Terjebak Kematian





TERJEBAK KEMATIAN
Isti Vianadi,  Jambi, 16 Juni 2013

Semula ku pikir kau lah jalan terbaik yang Tuhan berikan untukku sebagai tempatku bersandar. Akantetapi semua musnah dengan satu tagmen yang membuatku beku membisu. Asaku hancur, porak-poranda bagaikan galaxi yang terpecah belah menjadi puing-puing yang takkan pernah bersatu. Apabila semua unsur tersebut kembali maka bencana besarlah yang akan tiba. Kiamat kubro. “Ya kiamat kubro.” Kiamat yang menantikan kematian.

Aku ling-lung untuk membuat keputusan. Setelah kubaru memulai keyakinan terhadap pilihanku. “Allah,, apa ini? Apakah ini ujian atau malah tujuan? Tujuan yang membawaku ke jalan yang Engkau inginkan...”
“Tidak, ini pilihan. Ini pilihan yang harus ku pilih jawabannya dengan menentukan arah kapal yang aku layari agar aku tak terjebak di samudera luas ini.”

Setelah Seminggu memupuk keyakinan terhadap pilihan, aku dihujat oleh kata penghancur asa. Ayah melarangku untuk pilihan itu. Ayah putuskan kepercayaan diriku terhadap pilihan itu dengan hujatan ganas yang panas. Yang membakar seluruh nadiku untuk meluapkan tsunami di pelupuk mataku. “Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caraku menjelaskan bahwa ini pilihan baik untukku?”.

Ini bermula saat kebahagiaanku. Bergegasku ingin ceritakan kepada kedua orang tuaku. Segeraku ambil handphone, kupetik nomor dengan semangatnya. Dengan tak sabar ku menunggu jawaban dari panggilanku. Ah, akhirnya Ibu bicara.
“Hallo, assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, apa kabarmu, Nak? Apakah kamu baik-baik saja?”, seperti biasa, Ibu menyapa dengan sapaan hangat.
“Aku baik-baik saja, Bu. Bu, aku dimasukkan ke dalam wadah indah lho Bu! Aku sangat dihargai di sini, Bu. Aku diberi motivasi, bahkan aku didukung untuk terus berkarya. Mereka menerima aku apa adanya, Bu.” Sambil tersenyum lebar menceritakan dengan semangat.
“Nak, Ayah ingin bicara denganmu”, nada bicara ibu sedikit merendah.
“Apa yang terjadi?” nada bicara Ibu menimbulkan tanda tanya besar dibenakku.
“Nak, apa yang kau lakukan? Hentikan itu! Itu tidak baik untukmu yang belum tau apa-apa. Ayah mohon, hentikan itu!”, terdengar suara Ayah dengan nafas cemas.
Terserak semua sel darahku. Seakan dihempas di jurang tertinggi. Atau mungkin dijatuhkan dari puncak gunung Kerinci. Terdiam lesu kudibuatnya.

“Nak, sekali lagi ayah peringatkan, hentikan itu! Jika kamu tetap tidak mau menghentikannya, Ayah akan menjagamu, Ayah yang akan menghentikanmu!”
Seakan menjadi tersangka di sidang pidana. Aku hanya diam, tak mampu berkata. Hanya luapan bandang yang terus kukumpul yang menunggu kapan akan meluap dan membanjiri wajah lesu yang kini pilu.

“Berjanjilah kepada Ayah kalau kamu akan menghentikan semua itu,” pungkas Ayah mengakhiri semua hujatan.
Tidak ada yang bisa aku ucapkan, selain kata “Ya, Ayah.” Membela diri pun aku tak mampu. Kata-katamu menghapus asaku ayah. Ku tak bisa mundur mengikuti kata-katamu. Aku juga tidak berani maju meneruskan mimpiku. Ku terpaku dalam langkah yang terhenti. Semua kian menyudutkanku untuk berbuat, tapi apa yang harus ku perbuat. Ku redam amarahku dengan deraian air mata yang tak sanggup ku tahan lagi.

Setelah sekian abad rasanya aku disidang, hp pun dimatikan. Hubungan pembicaraan dan ayah pun terhenti. Berakhirnya hujatan, mengundang kebingungan pada diriku. Aku tak tahu dimana akan ku labuhkankan hati. Menyandar diri, mengadu pilihan yang kini tak mampu ku genggam.
“Tuhan,, langkah mana yang akan membawaku.” Tersungkur aku di rimbaanNya.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar