TERJEBAK KEMATIAN
Isti Vianadi, Jambi,
16 Juni 2013
Semula
ku pikir kau lah jalan terbaik yang Tuhan berikan untukku sebagai tempatku bersandar.
Akantetapi semua musnah dengan satu tagmen yang membuatku beku membisu. Asaku
hancur, porak-poranda bagaikan galaxi yang terpecah belah menjadi puing-puing
yang takkan pernah bersatu. Apabila semua unsur tersebut kembali maka bencana
besarlah yang akan tiba. Kiamat kubro. “Ya kiamat kubro.” Kiamat yang
menantikan kematian.
Aku
ling-lung untuk membuat keputusan. Setelah kubaru memulai keyakinan terhadap
pilihanku. “Allah,, apa ini? Apakah ini ujian atau malah tujuan? Tujuan yang
membawaku ke jalan yang Engkau inginkan...”
“Tidak,
ini pilihan. Ini pilihan yang harus ku pilih jawabannya dengan menentukan arah
kapal yang aku layari agar aku tak terjebak di samudera luas ini.”
Setelah
Seminggu memupuk keyakinan terhadap pilihan, aku dihujat oleh kata penghancur
asa. Ayah melarangku untuk pilihan itu. Ayah putuskan kepercayaan diriku
terhadap pilihan itu dengan hujatan ganas yang panas. Yang membakar seluruh
nadiku untuk meluapkan tsunami di pelupuk mataku. “Ya Tuhan...apa yang harus
aku lakukan? Bagaimana caraku menjelaskan bahwa ini pilihan baik untukku?”.
Ini
bermula saat kebahagiaanku. Bergegasku ingin ceritakan kepada kedua orang
tuaku. Segeraku ambil handphone, kupetik nomor dengan semangatnya. Dengan tak
sabar ku menunggu jawaban dari panggilanku. Ah, akhirnya Ibu bicara.
“Hallo,
assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,
apa kabarmu, Nak? Apakah kamu baik-baik saja?”, seperti biasa, Ibu menyapa
dengan sapaan hangat.
“Aku
baik-baik saja, Bu. Bu, aku dimasukkan ke dalam wadah indah lho Bu! Aku sangat
dihargai di sini, Bu. Aku diberi motivasi, bahkan aku didukung untuk terus
berkarya. Mereka menerima aku apa adanya, Bu.” Sambil tersenyum lebar
menceritakan dengan semangat.
“Nak,
Ayah ingin bicara denganmu”, nada bicara ibu sedikit merendah.
“Apa yang terjadi?”
nada bicara Ibu menimbulkan tanda tanya besar dibenakku.
“Nak,
apa yang kau lakukan? Hentikan itu! Itu tidak baik untukmu yang belum tau
apa-apa. Ayah mohon, hentikan itu!”, terdengar suara Ayah dengan nafas cemas.
Terserak
semua sel darahku. Seakan dihempas di jurang tertinggi. Atau mungkin dijatuhkan
dari puncak gunung Kerinci. Terdiam lesu kudibuatnya.
“Nak,
sekali lagi ayah peringatkan, hentikan itu! Jika kamu tetap tidak mau
menghentikannya, Ayah akan menjagamu, Ayah yang akan menghentikanmu!”
Seakan
menjadi tersangka di sidang pidana. Aku hanya diam, tak mampu berkata. Hanya
luapan bandang yang terus kukumpul yang menunggu kapan akan meluap dan
membanjiri wajah lesu yang kini pilu.
“Berjanjilah
kepada Ayah kalau kamu akan menghentikan semua itu,” pungkas Ayah mengakhiri
semua hujatan.
Tidak
ada yang bisa aku ucapkan, selain kata “Ya, Ayah.” Membela diri pun aku tak
mampu. Kata-katamu menghapus asaku ayah. Ku tak bisa mundur mengikuti
kata-katamu. Aku juga tidak berani maju meneruskan mimpiku. Ku terpaku dalam
langkah yang terhenti. Semua kian menyudutkanku untuk berbuat, tapi apa yang
harus ku perbuat. Ku redam amarahku dengan deraian air mata yang tak sanggup ku
tahan lagi.
Setelah
sekian abad rasanya aku disidang, hp pun dimatikan. Hubungan pembicaraan dan
ayah pun terhenti. Berakhirnya hujatan, mengundang kebingungan pada diriku. Aku
tak tahu dimana akan ku labuhkankan hati. Menyandar diri, mengadu pilihan yang
kini tak mampu ku genggam.
“Tuhan,,
langkah mana yang akan membawaku.” Tersungkur aku di rimbaanNya.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar