EPISODE CERITA KARMA
Isti
Vianadi
19
April 2014
Semburat
merah masih terpancar di wajahnya yang berada di ambang senja. Lesu menjamah
tiap harinya. Ia bagaikan balita yang mesti dijaga setiap siang dan malamnya.
Aku hampir tak percaya dengan apa yang telah kulihat saat ini. Kemarin dia
masih acuh berjalan dihadapanku membawa sepeda tuanya yang hendak karam.
Ditemani Karma, ia buang muka seakan tak pernah mengenaliku. Karma, seorang
nenek sihir yang telah menyihir arah pedal sepedanya. Dalam dongeng ia selalu
membawa sapu terbangnya lalu hilang dibawa hembusan angin malam. Datang dengan
bencana merajam manusia-manusia lemah jatuh kepangkuannya menjadi budak nista.
Sebelum
tidur aku selalu diceritakan oleh ibu tentang kisah sewaktu ia masih kecil
dijaga oleh sang perkasa yang begitu bijaksana. Nenek sudah lama pergi
menyisakan ia yang akan selalu menemani tumbuh dewasanya ibu. Padanya nenek
menitipkan buah hati yang telah mereka ramu bersama dengan cinta. Janjinya
begitu tulus lembut seperti kapas. Namun kapas tetaplah akan mudah diterbangkan
oleh angin.
Aku
menjadi sangat penasaran siapa sebenarnya lelaki di ujung senja itu? kulantunkan
tanya pada setiap orang yang melewatiku, tapi semuanya seakan tidak
mengenalnya. Ada apa? Dimanakah dia sekarang? Mungkin cuma masa kecil ibu yang
mampu menjawabnya. Kudekati ibu dengan dekapan manja. Sambil kubaringkan tubuh
dipangkuannya, kutanya lagi segala benak yang membengkak di dalam pikiranku.
“Dia
datang, lenyap, dan akan datang lagi”, kata-kata ibu semakin menyemarakkan
penasaranku terhadap sesosok lelaki itu. Siapakah dia?
Di
jendela rumah, kulihat sepasang kekasih memadu kasih dengan cara yang canggih.
Yang satu layaknya seorang ratu, namun satunya lagi seperti budak yang sangat
setia. Dunia memang sudah berubah, reformasi membuahkan revolusi. Teladan tak
lagi menjadi dandanan trend masa kini. Bumi telah diobrak-abrik oleh rotasi
yang terus tanpa henti 24 jam sehari. Salut pada kemelut dunia kini.
Gonggongan
terus merong-rong mengikuti arah gerak sepasang kekasih yang sedang dimabuk
cinta. Mabuk yang pada akhirnya dapat memuntahkan segala apa yang ada.
Gonggongan itu terus memekakkan gendang telinga, namun syahdu tangis yang
mengiringinya menyanyikan melodi hiba diri sang perindu kasih. Aku yang sebagai
penonton semakin dibuat penasaran oleh cerita layar lebar ini. Kuikuti tiap
alur yang mengalir dalam tiap riak aliran yang membawanya. Namun masih juga
tentang budak sejati pecinta ratu sihirnya. Masih kuikuti alurnya berharap ada
celah untuk merubah skenario cerita yang tak berneraca ini. Selalu saja si
gadis hina yang harus merong-rong mengharap hiba. Memanjatkan setiap kaki
berharap ada yang mengasihaninya. Kejam menyeka semilir tangis hidup si gadis
pengharap hiba.
Dua
puluh tahun lamanya aku tak pernah mendengar lagi cerita ibu tentangnya. Ia
hilang disimpan Karma. Mungkin ini tahap kedua dari ceritanya. Dua puluh tahun
itu pula kutetap duduk diam menonton skenario ceritanya. Masih tetap sama.
Hanya saja usia yang semakin menua termakan masa. Biarlah ia lanjutkan ceritanya
sendiri. Kisah cinta setia Galih dan Ratna, tapi versi obrak-abrik rotasi.
Terus mengalir di aliran keruh daratan sungai yang tenang. Tanpa disadari
terhanyut di dasar yang penuh arus deras. Tak pernah disangka permukaan tenang
mengancam di dasar arus.
Tanpa
kusadari aku terlelap dipangkuan ibu yang sedang menyulam benang hidupnya yang
mulai ia tata kembali. Sungguh berat hidupnya harus merajam nestapa. Berebut
satu nama yang disebut cinta. Cinta yang berbeda cara memahami. Ada yang
memperbudak diri dan ada yang setia mengabdi. Semua berfilsafat tentang
definisi yang sebenarnya sehingga mewabahi banyak dugaan yang menyeka diri.
Semua skenarioNya yang siap untuk dijadikan sinetron kehidupan manusia
sekarang.
Di
alam mimpi kubertemu seorang lelaki perkasa yang pernah diceritakan oleh ibu.
Dia mengajakku naik sepedanya. Sambil mengayuh alunan pedal sepedanya, ia
bercerita padaku tentang penyesalan masa silamn. Nasi telah menjadi bubur,
takdir tetap ia terima atas Karma diri. Sesampainya di tepi sebuah danau, dia
mengajakku duduk di bawah rindangan pohon sambil terus bercerita. Pohon itu
sudah sangat tua, namun tak pernah berbuah semenjak ia tak terurus lagi. Di
batang pohon itu ia tunjukkan satu nama yang selalu ia jaga. Tapi semenjak terhipnotis
oleh pesona Karma, nama itu hampir tak pernah ia temui lagi. Nama itu kini
tertutupi oleh lumut yang terus bersemi di bawah rindang dedaunan pohon.
Semenjak itu juga ia lupa satu janji yang pernah mengikat erat dalam dirinya.
Sehingga janji itu terus menggonggong merana mengharap pertanggungjawaban
janji. Di bawah pohon itu ia juga bercerita tentang indahnya saat ia bercengkrama
dengan buah hati titipan Nama. Sungguh tak dapat dielakkan ikatan darah suci
yang terus mengaliri nadi yang berasal dari satu hati.
Aku
bertanya, “Kemana kau selama ini?” Ia hanya tertunduk lesu.
“
Aku sedang dijamah oleh cinta buta.”
“Tapi
kenapa harus ada yang tersakiti? Kenapa harus ibuku yang harus durhaka
menggonggong di setiap malam buta?”
Dia
terdiam sambil mengusap air mata yang meleleh di pipi keriputnya. “Ini Karmaku,
ia datang untuk menghanyutkan aku. Kumohon sampaikan maafku pada ibumu dan satu
nama yang telah melumut di pikiranku itu. Aku tak tau bagaimana harus
membersihkan lumut dari nama itu. Lumut itu telah mengakar dan tak mungkin
kubasmi kehidupannya.”
Sambil
tersengal kembali kutata lagi ucapanku. “Siapa orang yang paling kau cintai?”
Dalam
lirih dia menjawab, “Ibumu.”
Kemudian
dia pergi meninggalkanku sambil membawa Karma yang tertawa keras melihat air
mataku. Tawanya seakan mengejek segala penderitaan yang telah ada. Sungguh
kejam merajam sukma yang membiarkanku tergolek sendiri di bawah pohon tua. Aku
hanya bisa meratap menatap langit mengharap hiba diri yang dirundung nestapa
yang tak berkesudahan. Ibu, sabarlah. Bangunkan aku untuk kuceritakan semua
yang ada pada dirinya, sebelum luka ini tak dapat lagi kuobati untukmu.
Pagi
menyibak mentari, aku terbangun dari mimpi burukku tadi malam. Aku masih
dipangkuan ibu. Kulihat dia masih memintal air mata duka kehilangan dirinya.
Tak mungkin kuhentikan karena aku bukanlah si pembuat takdir. Tabir jingga
melesap seiring tingginya matahari menyinari bumi. Perlahan kubangkitkan
tubuhku, melihat jendela kusam di sudut rumahku. Tontonan itu masih belum
selesai, tapi dengan episode yang berbeda.
Kemarin
aku masih melihat gonggongan itu terus mengikutinya. Sambil terisak memanjat
kaki mengharap kesadaran diri untuk melepas sihir jahat si nenek sapu terbang
malam. Karma masih tak mau melepasnya. Ia masih ingin menjadi ratu dari budak
setia pengikut cinta. Perintahnya masih mengalir bagai gerimis disepertiga
senja. Ia masih asyik dengan auman tawa ejekan penderitaan.
Kemarin
aku masih melihatnya bahagia diperbudak oleh sahaya. Namun kini kulihat
wajahnya kelu, tubuhnya lesu dengan selimut lusuh menyelimuti tidurnya. Hingga
akhirnya ia dibuang di tepi danau tempat sebatang pohon tua menancap
digersangnya tanah gambut. Ia menangis sambil kembali mencari-cari nama di
pohon tua yang telah berlumut. Tapi tak jua ia temukan satu nama yang pernah ia
lupakan itu. Lumut itu terlalu kuat mengakar di kulit gersang pohon tua.
Tinggal kini ia meratapi Karma mengharap hiba si penyimpan nama. Tangisnya seakan
mengaliri di danau tenang. Sungguh Karma pembuat nista, habis manis sepah
dibuang. Tak segan amukan cambuk akan berpapasan padanya kelak untuk ucapkan
sapaan selamat menang. Tidak mungkin hanya itu, karena dia si pemilik Karma.
Perlahan
kulihat ibu berjalan menuju pintu. Ke arah mana yang akan ia tuju sungguh aku
tak tahu. Kubuntuti setiap gerak langkah kakinya. Sambil membuang benang-benang
kusut yang tak mampu ia pintal lagi, terus ia melangkahkan kaki.
“Ibu.
Ibu.. Ibu...!” kupanggil ia dibalik tubuhnya yang berlumuran air mata.
“Ibu.
Ibu.. Ibu...!” kembali kupanggil, namun dia masih belum menoleh.
Apa
yang terjadi pada ibu? Apakah ia juga telah disihir oleh nenek Karma itu?
Tangisku semerbak menemani langkah kaki ibu. Aku takut terjadi sesuatu padanya.
Dia sungguh telah banyak menderita.
Kuberanikan
diri untuk berlari menarik jemarinya yang penuh luka berdarah. Tapi jemarinya
tak bisa kusentuh, dia terus berjalan membawa diri ke tempat yang kurasa aku
mengenalnya. Benarkah ibu telah disihir Karma? Kurasa tidak. Auranya nampak
berbeda. Tanpa gonggongan merana, ia tetap syahdu mengurai tangis. Entah apa
makna tangisnya itu. Dari kejauhan kunampaki bayang satu pohon besar di tepi
danau. Itu tempatnya. Sambil memilin-milin benang, ibu berusaha menyimbah
ilalang yang menghilangkan pandangan. Ia tampak bersusah payah melewati padang
gambut yang gersang. Kembali kupanggil ia.
“ibu.
Ibu.. Ibu...!”
Sahutanku
tak menembus gendang telinganya. Apa yang sebenarnya akan ia lakukan di sana?
Di deru angin yang menyejukkan kucium firasat yang tak kasat mata. Aku terus
berfikir apa yang telah terjadi. Semenjak gonggongan itu tak terdengar lagi,
aku seakan tak bisa menerka jalan ceritanya. Kemana si nenek sihir Karma tak
pernah kutemui lagi lakonnya. Suara tawanya masih terdengar menggema, namun
wajahnya tak dapat lagi kulihat. Tapi ada yang aneh, tawanya telah berubah.
Suaranya tak segemuruh dulu lagi. Suaranya samar-samar bersembunyi di balik
pondokan rumah kayu tak bertiang itu. Apakah itu tanda kebinasaannya?
Kaki
terhenti di depan satu pohon besar di tepi danau. Aku melihat ibu sedang
mengusap-usap wajah tua yang hina kini. Lalu wajah tua ia bawa ke tepi danau.
Dia basuh seluruh tubuhnya yang renta. Lalu dipakaikannya baju putih lengkap
dengan sorbannya. Dipindahkan lagi wajah tua itu bersandar pada pohon tus besar
yang rindang. Dari balik benang yang daritadi ia pilin, ada 33 tasbih menjuntai
yang ia serahkan kepada wajah tua itu. Sambil tersenyum wajah itu memilin
tasbih yang sekarang menjadi miliknya. Ibu tetap setia membelai rambut putihnya
yang tipis seperti ia membelai rambutku 12 jam yang lalu. Aku sedikit cemburu.
Kenapa ia ibu jemput setelah lumut itu tak pernah ia bersihkan lagi. Ibu
seperti kembali menata diri. Membersihkan lumut yang telah mengakar di pohon
tua itu. Menyiraminya dengan air telaga penyejuk dahaga. Sungguh keikhlasan
sebening permata.
Lelaki
terlelap di pangkuan ibu sambil tetap memilin-milin tasbihnya. Ibu masih tetap
setia membelainya dengan tangisan air mata duka. Dia sungguh telah semakin tua.
Cintanya ia jamu dengan derita. Peluh lusuh di kemejanya masih sangat melekat
aroma luka. Tak pernah disangka ia sungguh telah luluh dengan tipu daya nenek
Karma.
Kudekati
ibu walau tak mampu kedekapi. “Ibu siapa dia?” dengan tangis yang tak sengaja
merembes jatuh di pipiku.
“Ssst...
Dia sedang istirahat! Dia sungguh telah lelah.” Sambil menyulam senyum untuk
menghapus air mata duka.
“Ibu,
siapa dia? Bukankah dia lelaki bersepeda tua yang kemarin berjalan melewatiku?”
“Dia
kini telah lepas. Dia bebas.”
Jawaban
ibu seakan tak menjawab tanya yang berselimut di pikiranku. Kupilih untuk
melihat ibu dari seberang danau. Tampak ibu berkaca-kaca menyibak setiap lumut
yang melekat pada sebuah nama. Ibu terus membersihkan lumut dari batang pohon
tua hingga ia temukan satu nama yang telah lama hilang. Pemandangan itu
menyentakku dari mimpi yang pernah singgah di tidurku semalam. Dialah lelaki
perkasa yang pernah membuat ibu bangga. Tapi lelaki itu juga yang membuat ibu
menderita. Tapi kenapa? Ia lupa dengan luka episode kemarin. Mungkin inilah
kekuatan aliran deras di nadi yang terus terhubung. Ibu jinak dari gonggongan
cerita kemarin.
Dari
jauh sesaat aku melihat ibu merajam duka mendalam. Pekikan kehilangan tampak
mengalir di tepi danau. Tanah gambut yang gersang kini melumut bersama satu
pohon tua di tepi danau. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Kuurung niat
untuk melihatnya. Dia nampak sangat menderita. Baru sebentar kulihat benang itu
hampir selesai ia tata, tapi sekarang telah tampak kusut lagi. Kemana perginya benang
yang tadinya akan disulam ibu untuk dijadikan kafan masa suram.
Pekikannya
kembali terdengar. Bukan sebuah gonggongan, tapi auman serigala yang haus akan
dendam. Di pertengahan siang gerhana memanah membelah matahari. Sejenak gelap
menyambar pada tiap sudut kepiluan mendalam. Serentak menggema tawa di pondokan
tua si nenek Karma. Tawa itu sedikit berbeda. Seperti tangis tapi meringis.
Membelah gerhana dalam seperempat masa. Dia tetap tak tampak, hanya suaranya
yang terus menggema.
Setelah
semua dibanjiri air mata, kembali kuhatur langkah menuju satu tubuh yang pilu.
Hanya tinggal ibu tersandar di pohon tua. Kulihat semua berubah menjadi gambut.
Kemana perginya danau itu? Orang tua tadi yang kulihat kini juga telah tak
tampak lagi? Ilalang dan benang semua lenyap?
Kudekati
wajah ibu, semua dingin membara. Ibu berubah menjadi serigala yang siap
mencekam wajah Karma. Semua episode cerita akan datang, lenyap, dan datang
lagi.
***