Sabtu, 24 Mei 2014

Wanita di Tepi Danau Kaca




WANITA DI TEPI DANAU KACA
Herti Gustina, 23 April 2014
Ada naskah, namun tak berlakon. Seorang wanita berkaca pada bening telaga. Wajah indah merekah dipantul sinar mentari pagi. Mengenakan baju biru bening membalut sekujur tubuh yang indah. Wajahnya sejuk seperti embun pagi. Senyumnya mempesona memandang semua yang ada di alam. Semua lukisan alam terpancar di bening matanya.
Pagi itu ia sedang duduk merenung di tepi telaga. Ia tampak sendiri memendam gurindam yang tampak bernyanyi di komat-kamit bibirnya. Di sepinya ia larutkan semua kalut seiring dengan gugurnya dedaunan menimpa permukaan telaga. Bercerita dengan alam sebagai sebuah curhatan diri penghapus sepi. Memainkan jemari di riak air diiringi tarian ikan-ikan yang saling berkejaran mengejar makanan. Ikan itu membuatnya iri. “Mempunyai teman mungkin akan lebih berarti?” pikirnya.
Dirunduk wajah indah dalam kesendirian hari-harinya. Tak sengaja aku melihat ada yang menetes dari kelopak matanya, merembes jauh ke dasar Danau Kaca. Air mata itu kemudian menjawab segala sepinya. Memanggil segala penjuru alam untuk menyelimuti gigil dingin wajah pucat pasi. Suara tangis gema alam. Batang ditebang menjadi ladang. Bakar hutan jadikan bangunan. Samar-samar terdengar suara ratapan menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia tersungkur kesakitan mencari teman. Namun aku pun belum sanggup menjadi temannya. Dari kejauhan kulihat goresan luka menoreh wajahnya yang jelita. Namun senyum simpul tetap membasahi telaga air mata untuk menyambut orang-orang yang diharapkan menjadi temannya.
Sekejap cerita bisa menjadi lara. Wanita di tepi telaga menemukan satu teman dari rasa yang tak kenal dosa. Ia sambut dengan sambutan hangat para ikan yang melenggak-lenggokkan tubuhnya sambil mengipaskan ekor indahnya. Menggoda untuk dapat memiliki. Merangsang rasa untuk dapat meraihnya. Sesaat wanita di tepi telaga membukakan pintu untuk teman barunya. Kemudian dia tutup dengan beningnya telaga Danau Kaca. Di senyum indahnya ia berkata “Inilah tangisanku saat kau akan kubuat berbahagia di sini. Keindahanku ini adalah untuk kebahagiaannmu.”
***
Diikutsertakan dalam Flash Fiction Pipet

Kamis, 15 Mei 2014

Terjebak Kematian





TERJEBAK KEMATIAN
Isti Vianadi,  Jambi, 16 Juni 2013

Semula ku pikir kau lah jalan terbaik yang Tuhan berikan untukku sebagai tempatku bersandar. Akantetapi semua musnah dengan satu tagmen yang membuatku beku membisu. Asaku hancur, porak-poranda bagaikan galaxi yang terpecah belah menjadi puing-puing yang takkan pernah bersatu. Apabila semua unsur tersebut kembali maka bencana besarlah yang akan tiba. Kiamat kubro. “Ya kiamat kubro.” Kiamat yang menantikan kematian.

Aku ling-lung untuk membuat keputusan. Setelah kubaru memulai keyakinan terhadap pilihanku. “Allah,, apa ini? Apakah ini ujian atau malah tujuan? Tujuan yang membawaku ke jalan yang Engkau inginkan...”
“Tidak, ini pilihan. Ini pilihan yang harus ku pilih jawabannya dengan menentukan arah kapal yang aku layari agar aku tak terjebak di samudera luas ini.”

Setelah Seminggu memupuk keyakinan terhadap pilihan, aku dihujat oleh kata penghancur asa. Ayah melarangku untuk pilihan itu. Ayah putuskan kepercayaan diriku terhadap pilihan itu dengan hujatan ganas yang panas. Yang membakar seluruh nadiku untuk meluapkan tsunami di pelupuk mataku. “Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caraku menjelaskan bahwa ini pilihan baik untukku?”.

Ini bermula saat kebahagiaanku. Bergegasku ingin ceritakan kepada kedua orang tuaku. Segeraku ambil handphone, kupetik nomor dengan semangatnya. Dengan tak sabar ku menunggu jawaban dari panggilanku. Ah, akhirnya Ibu bicara.
“Hallo, assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, apa kabarmu, Nak? Apakah kamu baik-baik saja?”, seperti biasa, Ibu menyapa dengan sapaan hangat.
“Aku baik-baik saja, Bu. Bu, aku dimasukkan ke dalam wadah indah lho Bu! Aku sangat dihargai di sini, Bu. Aku diberi motivasi, bahkan aku didukung untuk terus berkarya. Mereka menerima aku apa adanya, Bu.” Sambil tersenyum lebar menceritakan dengan semangat.
“Nak, Ayah ingin bicara denganmu”, nada bicara ibu sedikit merendah.
“Apa yang terjadi?” nada bicara Ibu menimbulkan tanda tanya besar dibenakku.
“Nak, apa yang kau lakukan? Hentikan itu! Itu tidak baik untukmu yang belum tau apa-apa. Ayah mohon, hentikan itu!”, terdengar suara Ayah dengan nafas cemas.
Terserak semua sel darahku. Seakan dihempas di jurang tertinggi. Atau mungkin dijatuhkan dari puncak gunung Kerinci. Terdiam lesu kudibuatnya.

“Nak, sekali lagi ayah peringatkan, hentikan itu! Jika kamu tetap tidak mau menghentikannya, Ayah akan menjagamu, Ayah yang akan menghentikanmu!”
Seakan menjadi tersangka di sidang pidana. Aku hanya diam, tak mampu berkata. Hanya luapan bandang yang terus kukumpul yang menunggu kapan akan meluap dan membanjiri wajah lesu yang kini pilu.

“Berjanjilah kepada Ayah kalau kamu akan menghentikan semua itu,” pungkas Ayah mengakhiri semua hujatan.
Tidak ada yang bisa aku ucapkan, selain kata “Ya, Ayah.” Membela diri pun aku tak mampu. Kata-katamu menghapus asaku ayah. Ku tak bisa mundur mengikuti kata-katamu. Aku juga tidak berani maju meneruskan mimpiku. Ku terpaku dalam langkah yang terhenti. Semua kian menyudutkanku untuk berbuat, tapi apa yang harus ku perbuat. Ku redam amarahku dengan deraian air mata yang tak sanggup ku tahan lagi.

Setelah sekian abad rasanya aku disidang, hp pun dimatikan. Hubungan pembicaraan dan ayah pun terhenti. Berakhirnya hujatan, mengundang kebingungan pada diriku. Aku tak tahu dimana akan ku labuhkankan hati. Menyandar diri, mengadu pilihan yang kini tak mampu ku genggam.
“Tuhan,, langkah mana yang akan membawaku.” Tersungkur aku di rimbaanNya.*

Jumat, 09 Mei 2014

Episode Cerita Karma




EPISODE CERITA KARMA
Isti Vianadi
19 April 2014

Semburat merah masih terpancar di wajahnya yang berada di ambang senja. Lesu menjamah tiap harinya. Ia bagaikan balita yang mesti dijaga setiap siang dan malamnya. Aku hampir tak percaya dengan apa yang telah kulihat saat ini. Kemarin dia masih acuh berjalan dihadapanku membawa sepeda tuanya yang hendak karam. Ditemani Karma, ia buang muka seakan tak pernah mengenaliku. Karma, seorang nenek sihir yang telah menyihir arah pedal sepedanya. Dalam dongeng ia selalu membawa sapu terbangnya lalu hilang dibawa hembusan angin malam. Datang dengan bencana merajam manusia-manusia lemah jatuh kepangkuannya menjadi budak nista.
Sebelum tidur aku selalu diceritakan oleh ibu tentang kisah sewaktu ia masih kecil dijaga oleh sang perkasa yang begitu bijaksana. Nenek sudah lama pergi menyisakan ia yang akan selalu menemani tumbuh dewasanya ibu. Padanya nenek menitipkan buah hati yang telah mereka ramu bersama dengan cinta. Janjinya begitu tulus lembut seperti kapas. Namun kapas tetaplah akan mudah diterbangkan oleh angin.
Aku menjadi sangat penasaran siapa sebenarnya lelaki di ujung senja itu? kulantunkan tanya pada setiap orang yang melewatiku, tapi semuanya seakan tidak mengenalnya. Ada apa? Dimanakah dia sekarang? Mungkin cuma masa kecil ibu yang mampu menjawabnya. Kudekati ibu dengan dekapan manja. Sambil kubaringkan tubuh dipangkuannya, kutanya lagi segala benak yang membengkak di dalam pikiranku.
“Dia datang, lenyap, dan akan datang lagi”, kata-kata ibu semakin menyemarakkan penasaranku terhadap sesosok lelaki itu. Siapakah dia?
Di jendela rumah, kulihat sepasang kekasih memadu kasih dengan cara yang canggih. Yang satu layaknya seorang ratu, namun satunya lagi seperti budak yang sangat setia. Dunia memang sudah berubah, reformasi membuahkan revolusi. Teladan tak lagi menjadi dandanan trend masa kini. Bumi telah diobrak-abrik oleh rotasi yang terus tanpa henti 24 jam sehari. Salut pada kemelut dunia kini.
Gonggongan terus merong-rong mengikuti arah gerak sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mabuk yang pada akhirnya dapat memuntahkan segala apa yang ada. Gonggongan itu terus memekakkan gendang telinga, namun syahdu tangis yang mengiringinya menyanyikan melodi hiba diri sang perindu kasih. Aku yang sebagai penonton semakin dibuat penasaran oleh cerita layar lebar ini. Kuikuti tiap alur yang mengalir dalam tiap riak aliran yang membawanya. Namun masih juga tentang budak sejati pecinta ratu sihirnya. Masih kuikuti alurnya berharap ada celah untuk merubah skenario cerita yang tak berneraca ini. Selalu saja si gadis hina yang harus merong-rong mengharap hiba. Memanjatkan setiap kaki berharap ada yang mengasihaninya. Kejam menyeka semilir tangis hidup si gadis pengharap hiba.
Dua puluh tahun lamanya aku tak pernah mendengar lagi cerita ibu tentangnya. Ia hilang disimpan Karma. Mungkin ini tahap kedua dari ceritanya. Dua puluh tahun itu pula kutetap duduk diam menonton skenario ceritanya. Masih tetap sama. Hanya saja usia yang semakin menua termakan masa. Biarlah ia lanjutkan ceritanya sendiri. Kisah cinta setia Galih dan Ratna, tapi versi obrak-abrik rotasi. Terus mengalir di aliran keruh daratan sungai yang tenang. Tanpa disadari terhanyut di dasar yang penuh arus deras. Tak pernah disangka permukaan tenang mengancam di dasar arus.
Tanpa kusadari aku terlelap dipangkuan ibu yang sedang menyulam benang hidupnya yang mulai ia tata kembali. Sungguh berat hidupnya harus merajam nestapa. Berebut satu nama yang disebut cinta. Cinta yang berbeda cara memahami. Ada yang memperbudak diri dan ada yang setia mengabdi. Semua berfilsafat tentang definisi yang sebenarnya sehingga mewabahi banyak dugaan yang menyeka diri. Semua skenarioNya yang siap untuk dijadikan sinetron kehidupan manusia sekarang.
Di alam mimpi kubertemu seorang lelaki perkasa yang pernah diceritakan oleh ibu. Dia mengajakku naik sepedanya. Sambil mengayuh alunan pedal sepedanya, ia bercerita padaku tentang penyesalan masa silamn. Nasi telah menjadi bubur, takdir tetap ia terima atas Karma diri. Sesampainya di tepi sebuah danau, dia mengajakku duduk di bawah rindangan pohon sambil terus bercerita. Pohon itu sudah sangat tua, namun tak pernah berbuah semenjak ia tak terurus lagi. Di batang pohon itu ia tunjukkan satu nama yang selalu ia jaga. Tapi semenjak terhipnotis oleh pesona Karma, nama itu hampir tak pernah ia temui lagi. Nama itu kini tertutupi oleh lumut yang terus bersemi di bawah rindang dedaunan pohon. Semenjak itu juga ia lupa satu janji yang pernah mengikat erat dalam dirinya. Sehingga janji itu terus menggonggong merana mengharap pertanggungjawaban janji. Di bawah pohon itu ia juga bercerita tentang indahnya saat ia bercengkrama dengan buah hati titipan Nama. Sungguh tak dapat dielakkan ikatan darah suci yang terus mengaliri nadi yang berasal dari satu hati.
Aku bertanya, “Kemana kau selama ini?” Ia hanya tertunduk lesu.
“ Aku sedang dijamah oleh cinta buta.”
“Tapi kenapa harus ada yang tersakiti? Kenapa harus ibuku yang harus durhaka menggonggong di setiap malam buta?”
Dia terdiam sambil mengusap air mata yang meleleh di pipi keriputnya. “Ini Karmaku, ia datang untuk menghanyutkan aku. Kumohon sampaikan maafku pada ibumu dan satu nama yang telah melumut di pikiranku itu. Aku tak tau bagaimana harus membersihkan lumut dari nama itu. Lumut itu telah mengakar dan tak mungkin kubasmi kehidupannya.”
Sambil tersengal kembali kutata lagi ucapanku. “Siapa orang yang paling kau cintai?”
Dalam lirih dia menjawab, “Ibumu.”
Kemudian dia pergi meninggalkanku sambil membawa Karma yang tertawa keras melihat air mataku. Tawanya seakan mengejek segala penderitaan yang telah ada. Sungguh kejam merajam sukma yang membiarkanku tergolek sendiri di bawah pohon tua. Aku hanya bisa meratap menatap langit mengharap hiba diri yang dirundung nestapa yang tak berkesudahan. Ibu, sabarlah. Bangunkan aku untuk kuceritakan semua yang ada pada dirinya, sebelum luka ini tak dapat lagi kuobati untukmu.
Pagi menyibak mentari, aku terbangun dari mimpi burukku tadi malam. Aku masih dipangkuan ibu. Kulihat dia masih memintal air mata duka kehilangan dirinya. Tak mungkin kuhentikan karena aku bukanlah si pembuat takdir. Tabir jingga melesap seiring tingginya matahari menyinari bumi. Perlahan kubangkitkan tubuhku, melihat jendela kusam di sudut rumahku. Tontonan itu masih belum selesai, tapi dengan episode yang berbeda.
Kemarin aku masih melihat gonggongan itu terus mengikutinya. Sambil terisak memanjat kaki mengharap kesadaran diri untuk melepas sihir jahat si nenek sapu terbang malam. Karma masih tak mau melepasnya. Ia masih ingin menjadi ratu dari budak setia pengikut cinta. Perintahnya masih mengalir bagai gerimis disepertiga senja. Ia masih asyik dengan auman tawa ejekan penderitaan.
Kemarin aku masih melihatnya bahagia diperbudak oleh sahaya. Namun kini kulihat wajahnya kelu, tubuhnya lesu dengan selimut lusuh menyelimuti tidurnya. Hingga akhirnya ia dibuang di tepi danau tempat sebatang pohon tua menancap digersangnya tanah gambut. Ia menangis sambil kembali mencari-cari nama di pohon tua yang telah berlumut. Tapi tak jua ia temukan satu nama yang pernah ia lupakan itu. Lumut itu terlalu kuat mengakar di kulit gersang pohon tua. Tinggal kini ia meratapi Karma mengharap hiba si penyimpan nama. Tangisnya seakan mengaliri di danau tenang. Sungguh Karma pembuat nista, habis manis sepah dibuang. Tak segan amukan cambuk akan berpapasan padanya kelak untuk ucapkan sapaan selamat menang. Tidak mungkin hanya itu, karena dia si pemilik Karma.
Perlahan kulihat ibu berjalan menuju pintu. Ke arah mana yang akan ia tuju sungguh aku tak tahu. Kubuntuti setiap gerak langkah kakinya. Sambil membuang benang-benang kusut yang tak mampu ia pintal lagi, terus ia melangkahkan kaki.
“Ibu. Ibu.. Ibu...!” kupanggil ia dibalik tubuhnya yang berlumuran air mata.
“Ibu. Ibu.. Ibu...!” kembali kupanggil, namun dia masih  belum menoleh.
Apa yang terjadi pada ibu? Apakah ia juga telah disihir oleh nenek Karma itu? Tangisku semerbak menemani langkah kaki ibu. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Dia sungguh telah banyak menderita.
Kuberanikan diri untuk berlari menarik jemarinya yang penuh luka berdarah. Tapi jemarinya tak bisa kusentuh, dia terus berjalan membawa diri ke tempat yang kurasa aku mengenalnya. Benarkah ibu telah disihir Karma? Kurasa tidak. Auranya nampak berbeda. Tanpa gonggongan merana, ia tetap syahdu mengurai tangis. Entah apa makna tangisnya itu. Dari kejauhan kunampaki bayang satu pohon besar di tepi danau. Itu tempatnya. Sambil memilin-milin benang, ibu berusaha menyimbah ilalang yang menghilangkan pandangan. Ia tampak bersusah payah melewati padang gambut yang gersang. Kembali kupanggil ia.
“ibu. Ibu.. Ibu...!”
Sahutanku tak menembus gendang telinganya. Apa yang sebenarnya akan ia lakukan di sana? Di deru angin yang menyejukkan kucium firasat yang tak kasat mata. Aku terus berfikir apa yang telah terjadi. Semenjak gonggongan itu tak terdengar lagi, aku seakan tak bisa menerka jalan ceritanya. Kemana si nenek sihir Karma tak pernah kutemui lagi lakonnya. Suara tawanya masih terdengar menggema, namun wajahnya tak dapat lagi kulihat. Tapi ada yang aneh, tawanya telah berubah. Suaranya tak segemuruh dulu lagi. Suaranya samar-samar bersembunyi di balik pondokan rumah kayu tak bertiang itu. Apakah itu tanda kebinasaannya?
Kaki terhenti di depan satu pohon besar di tepi danau. Aku melihat ibu sedang mengusap-usap wajah tua yang hina kini. Lalu wajah tua ia bawa ke tepi danau. Dia basuh seluruh tubuhnya yang renta. Lalu dipakaikannya baju putih lengkap dengan sorbannya. Dipindahkan lagi wajah tua itu bersandar pada pohon tus besar yang rindang. Dari balik benang yang daritadi ia pilin, ada 33 tasbih menjuntai yang ia serahkan kepada wajah tua itu. Sambil tersenyum wajah itu memilin tasbih yang sekarang menjadi miliknya. Ibu tetap setia membelai rambut putihnya yang tipis seperti ia membelai rambutku 12 jam yang lalu. Aku sedikit cemburu. Kenapa ia ibu jemput setelah lumut itu tak pernah ia bersihkan lagi. Ibu seperti kembali menata diri. Membersihkan lumut yang telah mengakar di pohon tua itu. Menyiraminya dengan air telaga penyejuk dahaga. Sungguh keikhlasan sebening permata.
Lelaki terlelap di pangkuan ibu sambil tetap memilin-milin tasbihnya. Ibu masih tetap setia membelainya dengan tangisan air mata duka. Dia sungguh telah semakin tua. Cintanya ia jamu dengan derita. Peluh lusuh di kemejanya masih sangat melekat aroma luka. Tak pernah disangka ia sungguh telah luluh dengan tipu daya nenek Karma.
Kudekati ibu walau tak mampu kedekapi. “Ibu siapa dia?” dengan tangis yang tak sengaja merembes jatuh di pipiku.
“Ssst... Dia sedang istirahat! Dia sungguh telah lelah.” Sambil menyulam senyum untuk menghapus air mata duka.
“Ibu, siapa dia? Bukankah dia lelaki bersepeda tua yang kemarin berjalan melewatiku?”
“Dia kini telah lepas. Dia bebas.”
Jawaban ibu seakan tak menjawab tanya yang berselimut di pikiranku. Kupilih untuk melihat ibu dari seberang danau. Tampak ibu berkaca-kaca menyibak setiap lumut yang melekat pada sebuah nama. Ibu terus membersihkan lumut dari batang pohon tua hingga ia temukan satu nama yang telah lama hilang. Pemandangan itu menyentakku dari mimpi yang pernah singgah di tidurku semalam. Dialah lelaki perkasa yang pernah membuat ibu bangga. Tapi lelaki itu juga yang membuat ibu menderita. Tapi kenapa? Ia lupa dengan luka episode kemarin. Mungkin inilah kekuatan aliran deras di nadi yang terus terhubung. Ibu jinak dari gonggongan cerita kemarin.
Dari jauh sesaat aku melihat ibu merajam duka mendalam. Pekikan kehilangan tampak mengalir di tepi danau. Tanah gambut yang gersang kini melumut bersama satu pohon tua di tepi danau. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Kuurung niat untuk melihatnya. Dia nampak sangat menderita. Baru sebentar kulihat benang itu hampir selesai ia tata, tapi sekarang telah tampak kusut lagi. Kemana perginya benang yang tadinya akan disulam ibu untuk dijadikan kafan masa suram.
Pekikannya kembali terdengar. Bukan sebuah gonggongan, tapi auman serigala yang haus akan dendam. Di pertengahan siang gerhana memanah membelah matahari. Sejenak gelap menyambar pada tiap sudut kepiluan mendalam. Serentak menggema tawa di pondokan tua si nenek Karma. Tawa itu sedikit berbeda. Seperti tangis tapi meringis. Membelah gerhana dalam seperempat masa. Dia tetap tak tampak, hanya suaranya yang terus menggema.
Setelah semua dibanjiri air mata, kembali kuhatur langkah menuju satu tubuh yang pilu. Hanya tinggal ibu tersandar di pohon tua. Kulihat semua berubah menjadi gambut. Kemana perginya danau itu? Orang tua tadi yang kulihat kini juga telah tak tampak lagi? Ilalang dan benang semua lenyap?
Kudekati wajah ibu, semua dingin membara. Ibu berubah menjadi serigala yang siap mencekam wajah Karma. Semua episode cerita akan datang, lenyap, dan datang lagi.
***