Rabu, 12 Maret 2014

KARMA TAK BERMAKNA



KARMA TAK BERMAKNA

Jambi, 10 Maret 2014
Semua bermula dari kesalahan. Hayati ditemani harapan hampa bahwa kebahagiaan akan datang padanya kelak. Hidupnya diselimuti kesendirian, tanpa kasih sayang penuh dari dua orang yang ia kasihi. Pasang surut dan terpaan kehidupan membuatnya tampak kuat namun rapuh serupa kayu tua. Hantaman kehidupan yang bertubi-tubi membuatnya menjadi berhati keras, kasar, dan penuh api dendam. Jauh di lubuk hati terdalamnya tersimpan keaslian mutiara bahwa dia adalah orang yang penyayang, lembut, dan penuh kasih sayang.
Kematian ibu adalah awal dari kekacauan. Hasrat ingin mengikuti kepergiaan ibunya tumbuh dalam hati sepinya. Api kehidupan kini telah hampir padam ditiup kesedihan. Hanya terbaring ditemani air mata menjadi rutinitas terbarunya. Siang menuai air mata mengingat segala kenangan yang ada. Malamnya ditemani bayangan ibu yang selalu menghantui malam indahnya. Untungnya, ada suami yang setia menemani hari deritanya. Meniupkan nyawa kehidupan pada jiwa Hayati demi gadis kecil, anak pertamanya.
Semenjak kepergian ibunya Hayati hanya terbaring lesu di kamarnya. Pancaran bola mata si anaklah yang masih membuatnya tetap bertahan walau semangat hidup seakan telah padam bagi dirinya. Melihat keadaan istrinya, Adam pun menjadi bingung. Adam hanya bisa menatap wajah istrinya tanpa bisa melakukan hal apapun. Ini bukanlah penyakit, tapi rasa kehilangan yang berlebihan memanggilnya untuk ikut padam mengikuti ruh yang hilang.
100 hari sudah Hayati hanya terbaring di kamarnya. Menangis kemudian menangis lagi. Hingga akhirnya datanglah si ayah mengunjunginya. Hatinya sedikit terhibur dengan kedatangan si ayah. Ayah yang sudah lama merantau ke negeri tetangga untuk menghidupi keluarga kini hadir di depan matanya. Sudah lama kehangatan dari sang ayah ia rindui, kini sedikit demi sedikit mulai ia rasakan kembali. Nyala kehidupan perlahan mulai terang kembali dengan kehangatan sang ayah. Selama berbulan-bulan ayahnya selalu mendampinginya melalui hari-hari sepinya hingga perlahan-lahan ia mulai pulih kembali. Indah memang melihat ayah dan anak yang sudah lama tak bertemu kini begitu akrab. Lengkaplah sudah rumahnya dengan orang yang ia kasihi.
Enam bulan sudah ayahnya menemani, ayahnya pun meminta izin untuk pulang mengunjungi sanak saudara dan rumah yang kini gersang tanpa dihuni. Dengan ikhlas, Hayati melepas kepergian ayahnya untuk pulang ke rumah dimana dahulu ia pernah menikmati masa kecil hingga remaja. Kedatangan sang ayah ternyata menjadi obat bagi sepi hati Hayati. Dan kepergian ayah untuk sementara kini bukanlah masalah lagi baginya. Ia pun melanjutkan aktifitas biasa tanpa bayang-bayang sang ibu lagi. Walau ia tak sepenuhnya bisa melupakan sang ibu, namun ia telah mampu menghilangkan bayang-bayang ibu yang selalu menghantui kehidupannya. Ibu adalah seseorang yang abadi di hati. Tak akan pernah terganti, apalagi terlupakan oleh jarak dan waktu.
Seminggu kepulangan ayah ia lewati dengan tetap berikhlas hati. Namun entah kabar yang membahagiakan atau mungkin sebaliknya terdengar olehnya. Keputusan ayah untuk beristri lagi kini tak tahu bagaimana harus ia hadapi. Ikhlas atau tidak, itulah keputusan ayah. Ia pun menerima keputusan itu walau dengan berat hati. Sedih kini kembali menyelimuti, tapi ia tetap berusaha ikhlas dengan jalan takdir yang ia miliki. Ia sadar bahwa ada sepasang bola mata yang harus ia jaga pancaran terangnya dan ada satu pria yang harus ia hargai keikhlasannya. Ia lepas dekapan ayah ke pangkuan orang lain karena ia tahu hanya ada satu cinta yang abadi terukir dan tak akan pernah terhapus di hati ayahnya. Cinta yang tulus dari ibunya yang telah memberinya kebahagiaan, kedamaian, dan tak pernah menuntut balas akan semua yang ia curahkan kepada ayah. Semua ia terima dengan ikhlas dan lapang dada. Ia berharap inilah jalan terbaik yang Tuhan beri untuk jalan hidupnya. Semua kini berjalan dengan sendiri-sendiri. Dia dan keluarganya serta ayah dengan kehidupan barunya.
Kehidupan baru ayahnya ternyata tidak lebih baik dari sebuah kehilangan. Ini bukan sekedar duka namun luka mendalam bagi Hayati yang baru saja menjalani hari terangnya. Tak cukup ibu yang tak bisa ia temui lagi. Kini dekapan ayah pun tak bisa ia rindui lagi. Kehadiran orang ketiga membawa bencana. Tamparan kasar dari kata-kata seorang ibu tiri membuatnya harus terpisah dengan ayah kandungnya sendiri. Sungguh kejam hidup ini bagi Hayati. Sengketa dan derita tak henti-hentinya menghujam kehidupannya. Entah salah apa yang telah ia perbuat sehingga tak ada celah bahagia yang bisa ia lewati dengan mulus. Selalu ada hantaman-hantaman keras yang menerpa kehidupannya. Mungkin inilah alur hidup seorang Hayati. Bertahun-tahun tak menikmati indahnya hidup bersama ayah, bertahun-tahun pula harus kehilangan sang ayah demi kejamnya seorang ibu tiri.
“Cintakah ia pada ayahku? Samakah cintanya seperti cinta ibuku? Hingga ia tak rela membagi kasih sayang ayahku untukku?”, itulah tanya yang melantun di hati pilunya. “Kuikhlaskan ayah untuk kebahagiaanya, namun aku bersumpah tak akan mengikhlaskan ayah karena dia.” Alangkah kejam kata yang harus ia ucapkan dalam hati, namun itulah yang ada dalam hatinya. Kebencian menyesak di dadanya hingga ia bersumpah untuk tidak akan memaafkan wanita yang telah merebut ayah darinya. Tak akan pernah ia membalas kejahatan si penyihir itu, akantetapi tak akan juga ia ikhlas dengan segala apa yang terjadi pada diri wanita itu.
Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan janda beranak satu itu, tak pernah hatinya tergerak untuk menemui anak serta cucunya. Entah kasih yang seperti apa yang telah menyihir  ayahnya sehingga mereka harus terpisah dengan sebuah kebencian. Tak cukup harta, tenaga pun tak segan-segan ia berikan untuk istri barunya, bagai seorang budak yang sangat menghambakan rajanya sehingga rela mengorbankan jiwa dan raga. Sakit hati pun Hayati pendam demi kedamaian keluarga kecilnya. Walau bagaimanapun itu adalah ayahnya yang telah diperbudak oleh orang tak berhati mulia. Apakah itu yang dinamakan cinta? Entahlah, cinta yang telah membutakan mata, telinga, dan hati. Semua seakan hanya untuk dia, bagaikan kacamata kuda yang dipasangkan pada kuda becak supaya mengikuti arah dan perintah tuannya.
Sekian tahun sudah tenaga diperas tanpa perasaan. Begitu lelah dan sangat menyakitkan. Tak sanggup lagi ayahnya untuk memaksakan bekerja seperti biasanya, sedangkan tuntutan sang istri masih serupa tanpa ada negosiasi. Dengan sakitnya, ia pun mulai bosan dan pergi ke peristirahatannya gubuk lama yang tak berpenghuni lagi. Dalam lelah, kerinduan pada anak cucu pun mulai muncul. Ada rasa segan untuk mengadu lelah pada anak yang telah ia telantarkan sekian lama demi seseorang yang kini ia kasihi. Dengan tertatih membawa sakit, ia beranikan diri untuk menemui anaknya meminta hiba diri supaya diberikan istirahat yang nyaman. Sesampainya di depan rumah tampak keluarga kecil sedang bercengkrama hangat. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Semuanya tampak hangat dan membahagiakan. Sedang asyik bercerita, tak sengaja Hayati menoleh ke arah ayahnya yang sedang mengharap hiba di depan pagar rumah. Dengan kebencian dan tangis yang tertahan, segera ia pergi ke rumah tanpa berbicara apapun dengan ayahnya. Anaknya lalu mengikuti dari belakang, sedang sang suami dengan hati ikhlas membukakan pintu untuk ayah mertuanya yang telah lama tidak menemui mereka lagi. Berceritalah tentang apa yang sedang ia alami saat ini. Adam hanya bisa menjadi pendengar yang baik, semua tergantung istrinya untuk bisa menerima ayahnya kembali. Ayahnya pun pulang dengan hati kecewa. Dia menyadari kesalahannya yang telah menelantarkan anak, cucu serta menantu. Wajar bila mereka tak bisa menerimanya untuk kembali. Sedang istri tak terima kalau tak bertenaga untuk menghidupi keluarga. Ayah yang malang oleh ulahnya seorang.
Beberapa hari setelah kedatangan ayahnya, Hayati selalu merenung memikirkan apa yang harus ia lakukan. Berhari-hari ia berdebat dengan kebencian dan kasih sayang, namun tak ada juga menemukan jalan keluar. Anaknya yang miskin kasih sayang seorang kakekpun angkat bicara. “ Ibu, Tuhan saja maha pemaaf, kenapa ibu tidak bisa memaafkan kakek? Izinkan aku untuk bisa merasakan hidup bersama seorang kakek, Bu?”. Perdebatan hati pun terjawab sudah oleh ketulusan seorang anak yang merindukan kasih sayang seorang kakek. Perlahan ia mengingat masa-masa indah sewaktu bersama ayahnya, begitu hangat, tanpa cacat dan noda. Semua kebencian tercoret sudah dengan keikhlasan ikatan darah ayah dan anak. Perih pedih kenangan sewaktu ditinggal ayah demi orang ketiga ia lupakan sejenak demi sebuah keikhlasan. Kedatangan ayah selanjutnya ia sambut dengan suka cita. Dengan tulus ikhlas ia rawat tubuh yang tua renta berselimutkan penyakit dimana-mana.
Semua kesalahan masa lalu ayahnya ia hapus demi sebuah ketulusan. Kini tinggallah ia merawat ayahnya yang sakit-sakitan tak bertenaga. Seperti sang perawat yang menjaga dengan setulus hati pasien-pasiennya. Menemani lelahnya dan menuruti segala keinginannya. Semua ia curahkan untuk kesembuhan ayahnya yang tak berdaya lagi. Membasuh badan lusuhnya, membersihkan kotoran-kotorannya, menjaga tidurnya layaknya pengasuh bayi yang terus menjaga bayinya. Sepenuhnya ia melayani ayahnya hingga ia yakini ayahnya pasti akan sembuh.
Beberapa bulan dirawat oleh tangan sang anak, berangsur-angsur keadaan ayahnya semakin membaik. Ia pun telah bisa bermain dan bercanda kembali dengan cucu dan menantunya. Kebahagiaan itu pun tampak indah bagai musim semi setelah sekian lama tak berbunga. Semua seakan terlahir kembali dalam kebahagiaan keluarga kecil itu. Begitupun Hayati yang telah sekian lama hidup dengan kebencian, kini telah memudar oleh percikan keikhlasan hati yang tak ingin membenci.
Musim semi ternyata tak lama karena harus berganti kembali dengan musim gugur. Hanya dititipi sebentar untuk pengobat rindu. Kepulihan ayahnya dari sakit ternyata tidak sepenuhnya menandakan kesembuhan. Hanya sekilas untuk membahagiakan Hayati. Tuhan pun mengambil ayahnya dari Hayati. Karma apakah yang telah menghakimi Hayati sehingga derita datang bertubi-tubi.  Kehilangan orang yang ia kasihi kini tak terelakkan lagi. semua telah menjadi keputusanNya. Tak ada satu makhlukpun yang berani menolak takdirnya. Hayati harus dibanjiri air mata kembali. Air mata yang mungkin tak akan ada hentinya lagi. karena semuanya telah pergi, lenyap tak bersisa. Tak ada lagi keikhlasan. Tak ada lagi kebahagiaan. Hanya tinggal sebuah tangisan yang berkepanjangan.
***