YASIN TERAKHIR
Nasib
ataukah takdir, dia hidup dalam genangan kehangatan keluarga. Gadis kecil yang
kini beranjak dewasa. Riani gadis periang yang beruntung namun keuntungannya
direnggut takdir. Wajahnya penuh kegirangan. Tutur katanya penuh kehangatan. Gadis
kebanggaan Pak Sanu dan Bu Rahmi. Ia tak enggan melampiaskan kasih sayangnya
kepada kedua orang tuanya dengan memberikan perhatian-perhatian. Dan orang
tuanya pun menyambut kehangatannya dengan cinta yang berlimpah ruah. Selain itu
kedua pasangan ini juga dianugrahi jagoan yang tak kalah hangatnya. Indah
memang melihat kehangatan yang dipancarkan oleh keluarga ini. Kesederhanaan
membuat mereka semakin saling berpegang erat dengan genggaman semangat. Sungguh
kebahagiaan yang membuat lirikan orang menjadi iri, namun juga menjadi magnet
yang dapat menarik manusia untuk termotivasi dengan apa yang mereka punyai.
Ketulusan yang dimiliki individu dalam membangun kebersamaan.
Riani
yang telah beranjak dewasa mulai melepaskan diri untuk dapat mandiri. Kuliah di
daerah yang berbeda membuat waktu untuk membangun kehangatan menjadi begitu
minim. Ia mulai sibuk dengan tugas-tugas yang cukup menyita waktu dan membuat
remuk pikirannya. Pergaulan yang berbeda membuatnya terkadang lupa dengan
kehangatan rumah. Tanpa sadarnya kadang ia pun berleha-leha menikmati dunia. Ia
lupa bahwa ada hati yang selalu memeliharanya. Hati itu selalu menghangatkannya
kembali. Mengingatkannya bahwa hati itu tak akan pergi jauh darinya. Itu yang
membuatnya tetap bertahan dalam kehangatan. Nyanyian ceria selalu menjadi teman
baiknya, karena tiada hari tanpa asupan perhatian yang hangat dari keluarganya.
Tidak
sekedar di rumah, gadis beruntung inipun juga mendapatkan kehangatan dari
sahabat yang selalu merekat erat. Ia selalu mendapatkan perhatian yang
berlimpah ruah, karena ia pun tak segan-segan memberikan perhatian kepada orang
lain yang ia sayangi. Memang ketulusan kapas putih yang lembut. Tapi seputih
apapun kapas dia tetap akan dihinggapi noda. Tanpa sadarnya ia juga kadang tak
bisa menimbang mana yang bisa membuat sesuatu itu seimbang. Lumrah memang,
hidup sudah selayaknya tak punyai kesempurnaan karena kesempurnaan hanyalah
milikNya.
Suatu
hari bertepatan dengan hari ulang tahun ayahnya, Riani menyempatkan dirinya
untuk pulang ke rumah, melepas semua beban kuliah yang kadang membuatnya jenuh.
Ia membawa bingkisan kado yang berisikan jam tangan abu-abu bertuliskan Sanu.
Dengan hati yang penuh berontak ingin meluapkan kebahagiaan, Riani menyerahkan
kadonya.
“Yah,
ini kado dari Ri. Mudah-mudahan ayah diberi umur yang panjang untuk bisa selalu
ada untuk Ri, Ibuk, dan Adek. Ri, sayang ayah.” Ucap Riani sambil memeluk
ayahnya.
“Ayah
juga sayang Ri. Ri harus jadi anak yang baik ya. Kalau ayah sudah tidak ada
nantinya Ri harus jaga ibuk dan adek.” sambil mengecup kening anaknya.
“Ayah
kok ngomong seperti itu. Ayah akan selalu ada untuk Ri, ibuk, dan adek!” dengan
wajah cemberut di pipi manisnya.
“Iya,
iya. Yuk kita makan!”
Dalam
nuansa hangat makan malam keluarga yang sedang berbahagia, terselip kecemasan
di hati ayahnya. Entah kenapa ayahnya merasa gelisah. Ada suatu hal yang
mengganggu pikirannya, tapi dia sendiri tak mengerti apa itu. Namun hangatnya
dekapan keluarga sayang untuk dilewatkan begitu saja. Mereka habiskan hari itu
untuk bercengkrama, meniupkan seruling kebahagiaan dalam nuansa indahnya
fatamorgana dunia. Menatap satu per satu sepasang mata yang berbinar-binar
memancarkan aroma mawar tanpa duri. Riani tampak hidup tanpa beban maupun
derita yang giat mengincar hidup manusia. Ia tak ubahnya seperti putri yang
dimanjakan oleh raja dan ratu yang sangat menyayanginya. Bergelimangan harta
dalam wujud kasih sayang tanpa dihinggapi derita dan air mata.
Tak
mungkin jika hidup tanpa air mata, karena selalu ada pergantian waktu,
pergantian cuaca, musim hujan pasti akan datang setelah musim panas berlalu.
Riani yang baru seminggu meninggalkan kampung halamannya mendengar kabar bahwa
ayahnya sedang sakit. Tak ada yang bisa ia perbuat selain berdoa untuk
kesembuhan ayahnya karena aktifitas kuliah tidak mengizinkannya untuk
meninggalkan kampus. Seminggu lamanya ayahnya sakit, namun kuliah masih enggan
memberinya waktu untuk keluar dari ruang rindu. Akhirnya semua kerinduan itu
meledak, hingga ia tak bisa menahan diri meninggalkan kampus dan pulang untuk
melihat ayahnya. Melihat kedatangan Riani, ayahnya menjadi tampak segar
kembali. Dengan kelembutan jemarinya, Riani merawat ayahnya yang sedang sakit.
Kondisi ayahnya sedikit demi sedikit semakin membaik.
Pagi
itu, ayahnya meminta Riani untuk membuatkannya soto ceker kesukaan ayahnya.
Riani pun membuatnya dan dengan telatennya, ia sendokkan suap demi suap makanan
ke dalam mulut ayahnya.
“Ri,
ayah ingin kembali. Ri jaga ibuk dan adek ya. Ayah ingin pulang.”
“
Ayah mau pulang kemana? Ini rumah kita, yah!” jawab Riani.
“Ri
sayang ayah kan? Ayah minta tolong yasinkan ayah. Ayah sudah cukup lelah.”
“Ayah
bicara apa sih? Ayah tidak boleh bicara seperti itu! Ayah pasti sembuh.”
Dengan
menahan bendungan air di matanya, Riani lalu pergi meninggalkan ayahnya sendiri
di kamar. Kesedihan menyelimuti hatinya yang teriris dengan ucapan pilu yang
menyayat hati dari ayahnya. Bukan karena benci, tapi karena kasih sayang yang
mendalam membuat Riani enggan untuk memenuhi perintah ayahnya.
Esok
berganti, ayahnya beranjak membaik. Rasa sakit yang dideritanya seolah hilang
dengan senyum ikhlas yang ia pancarkan. Dengan masih tertatih-tatih, Riani
dilepas oleh ayahnya untuk kembali berangkat melanjutkan perkuliahan yang
sempat jeda dari aktifitasnya. Riani berangkat dengan perasaan tenang, namun di
hatinya masih tersembunyi kata-kata yang diucapkan ayahnya tersebut. Ingin ia
buang jauh-jauh, namun ucapan ayahnya masih semu terdengar di benaknya.
Perjalanan
panjang telah dilewati, paginya Riani sudah sampai dan tampak bersiap-siap untuk
mengikuti perkuliahan. Di gerbang kampus ia telah disambut oleh
sahabat-sahabatnya. Riani gelisah, diceritakannya apa yang mengganjal di hati.
Tapi ini gejala hati, hanya hati yang dapat mengerti. Sahabatnya hanya bisa
memberi respon positif untuk bisa memudarkan hal negatif yang mungkin terjadi.
Keyakinan sahabatnya kalau itu hanyalah keinginan indah dari seorang ayah yang
menyayangi anaknya. Jawaban sahabatnya membuat Riani menjadi sedikit tenang dan
sejenak melupakan kata yang sulit untuk dipercaya.
Hari
berlalu Riani menjalani harinya dengan mengejar segala ketertinggalannya selama
meninggalkan perkuliahan. Semuanya berjalan lancar. Hampir semuanya telah
dibereskan. Handphone ungu
digenggamannya berdering, terdengar berita kalau dia harus pulang kembali.
Salam rindu dari ayahnya terdengar lesu. “Mungkin ayah kelelahan, atau... akh,
ayah cuma lelah.” Riani membisik di hati.
Kepulangan
Riani disambut keramaian keluarga. Ayahnya terbaring lesu dengan semua alat
yang terlihat menyemaki tubuhnya. Ayahnya tampak sesak. Riani pun ikut sesak
dan tak sengaja melepas bendungan air yang sudah lama tertahan di matanya. Di
kursi nampak ibunya yang nampak lelah terjaga. Ia kuatkan diri, perlahan
berjalan menuju ibunya.
“Bu,
ayah kenapa?” tanya Riani pelan.
“Bacakan
yasin untuk ayah, nak. Biar cepat hilang rasa sakit ayahmu.”
“Tidak.
Ri, tidak mau! Ri, akan membacakannya bersama ayah besok.” Sambil menderai
tangis ia larikan diri menjauh dari keramaian.
Seminggu
lamanya ayahnya terbaring di rumah sakit, penyakit ayahnya tetap begitu saja.
Pagi itu, ayahnya nampak agak segar dari hari-hari biasanya. Ayahnya menyuruh
Riani untuk kuliah dan menyelesaikan semua tugas-tugas kampus. Dengan berat
hati Riani pun menuruti permintaan ayahnya. Riani nampak agak tenang karena
kondisi ayahnya hari itu tampak mulai membaik. Di kampus ia ceritakan semua
kebahagiaan yang ia rasakan. Ia ceritakan kalau ayahnya sudah mulai membaik.
Temannya pun ikut berbahagia melihat senyum mulai merapat di bibirnya.
Sepulangnya dari kampus ia tetap menyemai rasa bahagianya.
Di
rumah sakit bergegas ia ingin melihat keadaan ayahnya, namun bak petir
menyambar di siang hari. Ia dengar yasin semakin mendengung di kamar rawat
ayahnya. Riani segera menuju ayahnya. Ayahnya tampak tersengal-sengal, seolah
memanggil Riani untuk mendekat padanya. Dengan berurai air mata Riani mendekati
ayahnya. Teringat olehnya keinginan ayahnya yang tempo lalu pernah ayahnya
utarakan. Dengan rasa tak percaya, Riani berusaha ikhlas mengambil surat yasin,
membacakan ayat demi ayat di samping ayahnya. Seiring dengan dibukanya
alat-alat yang menyemaki tubuhnya, nafasnya pun semakin hilang. Ruh semakin
dibawa jauh pergi meninggalkan dunia. Tanpa sadar hingga selesainya pembacaan
yasin, Riani pun akhirnya menyadari bahwa ayahnya sudah tiada. Tangisan
menyambar menghantam hatinya yang hilang. Tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi
harapan. Terikat dalam ketidakpercayaan bahwa ayah sudah tiada. Bagaimana dia
akan melanjutkan hidup? Semuanya terlihat suram. Namun kesan yang menjadi pesan
terakhir ayahnya bahwa jangan tinggalkan senyum manismu itu. Bukan untuk satu
waktu, tapi untuk selamanya kau harus tetap melukiskan pelangi itu. Tebarkan
senyum bukan untuk dirimu sendiri tapi untuk orang lain yang ada di
sekelilingmu.
8
Januari 2013, terinspirasi dari kisah AAS.